Skip to content

Belajar dari hidup Petrus

January 31, 2010

Petrus adalah tokoh besar dalam kekristenan. Pernahkah kita duduk dan merenungkan mengenai kehidupan orang ini? Jika kita melihat kehidupan orang ini, maka ada banyak sekali pelajaran yang kita bisa petik untuk kehidupan kita pada masa kini. Adalah sesuatu yang menarik ketika kita melihat bahwa Injil-Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) menggambarkan Petrus sebagai pribadi yang berbeda dari Petrus yang digambarkan dalam kitab Kisah Para Rasul. Mari kita menyimak apa kata Alkitab mengenai orang ini.
Injil-Injil pertama kali menggambarkan Petrus sebagai seorang nelayan biasa. Dia bukan seorang ahli taurat yang berpendidikan tinggi, dia bukan pemungut cukai yang ditakuti, dia bukan pegawai di kantornya Herodes yang memiliki kekuasaan, dia bukan apa-apa. Dia tidak berpendidikan tinggi (lihat KPR. 4:13). Dia hanya seorang nelayan. He was an ordinary person. Tetapi kemudian ia dipanggil oleh Yesus, melalui saudaranya Andreas (Yoh. 1:41). Dari titik itulah ia menjadi pengikut Yesus. Ia meninggalkan profesinya sebagai seorang nelayan dan mengikuti Yesus (Mat. 4:18-20). Rupanya sebagai pengikut Yesus, Petrus menjadi murid yang terdekat dengan Yesus. Paling tidak ada 3 murid yang paling dekat dengan Yesus, mereka adalah Yohanes, Yakobus dan Petrus. Salah satu bukti kedekatan itu adalah ketika Yesus dimuliakan di atas gunung, Ia menyuruh semua murid menunggu di kaki gunung dan Ia hanya mengajak ketiga orang ini pergi ke gunung bersama dengan Dia (Mat. 17:1; Mark. 9:2; Luk. 9:23). Selain itu, Petrus pun adalah seorang yang sangat bersemangat. Hanya Petrus yang menantang Yesus untuk memampukan dia berjalan di atas air (Matius 14:22-33). Dia adalah Murid yang menjawab pertanyaan Yesus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Matius 16:13-23). Tetapi disitulah letak kelemahan Petrus. Ia banyak bicara tetapi sedikit berpikir. Secara psikologis, kemungkinan besar ia adalah seorang yang berkarakter sanguinis. Sebagai seorang yang menyala-nyala yang lambat berpikir tetapi cepat bertindak dan berkata-kata, Petrus pada akhirnya justru menjadi orang yang menyangkal Yesus. Padahal, dari antara semua murid, Petruslah yang paling getol untuk berjanji “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” (Mat. 26:35). Markus menambahkan bahwa Petrus menyatakan hal tersebut “dengan lebih bersungguh-sungguh” (Mark. 14:31). Lukas menceritakan bahwa Petrus berjanji “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” (Luk. 22:33) Tetapi apa yang terjadi??Si pria sanguinis ini ternyata menyangkal Yesus. Semua janji-janji itu palsu. Petrus yang adalah murid terdekat dengan Yesus, justru sekarang telah menjadi seorang penghianat. Injil Yohanes menceritakan bahwa pada akhir hidupnya, Petrus telah meninggalkan semua panggilan kekristenan dan kembali lagi menjadi seorang nelayan. Fakta ini berbicara bahwa dia sudah kembali ke kehidupannya yang lama, yaitu kehidupan sebelum ia bertemu dengan Yesus. Inilah Petrus yang digambarkan dalam Injil-Injil.
Bagaimana dengan Petrus dalam kitab Kisah Para Rasul? Rupanya gambaran KPR mengenai Petrus berbeda sangat radikal. Petrus adalah orang yang berdiri dan dengan berani berkhotbah dihadapan orang2 Yahudi. Sekali itu KPR mencatat bahwa ada 3000 orang bertobat. Selain itu, ia menjadi pemimpin utama dalam gereja di Yerusalem. Kisah mengenai Ananias dan Safira menunjukan betapa Petrus adalah seorang yang penuh dengan wibawa dan otoritas rohani. Bayangannya saja mengenai tubuh yang sakit, tubuh itu langsung sembuh. Ia, penuh dengan kuasa Allah, memerintahkan seorang lumpuh di depan bait Allah untuk berjalan, dan seketika itu juga orang tersebut sembuh (KPR 3:1-10). Pada akhir hidupnya, ia menjadi seorang martir yang mati dengan cara disalibkan terbalik.Petrus yang gagal sekarang benar-benar telah menjadi petra (“batu karang”).
Apa yang terjadi diantara Petrus dalam Injil-Injil dan Petrus dalam KPR? Paling tidak ada 3 hal yang terjadi di situ. 1) Petrus diterima kembali dengan kasih Ilahi oleh Yesus (Yoh. 21:15-19). 2) Kebangkitan Kristus memberikan kuasa yang mampu mengubahkan Petrus (band. Fil. 3:10). Dan 3) Petrus menerima baptisan Roh Kudus (KPR 2). Ini adalah kunci perubahan dalam hidup Petrus: kasih Allah, kebangkitan Kristus, dan baptisan Roh Kudus. Apakah anda pada saat ini berada dalam situasi seperti Petrus dalam Injil2? Gagal, hancur, pengecut, penghianat, dll. Allah sanggup mengubahkan hidup anda, menjadi hidup yang penuh dengan kemenangan. Oswald Sanders mengatakan, “orang-orang Farisi melihat Petrus sebagai seorang nelayan yang tidak berpendidikan yang tidak layak untuk dipandang. Tetapi Yesus melihat Petrus sebagai seorang pemimpin besar yang mampu untuk menunggang-balikan isi dunia. Itulah cara Yesus memandang diri kita. Soli Deo Gloria
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.