Obrolan Mengenai Beasiswa di Amerika (1)
Pendidikan adalah kunci dari keberhasilan sebuah bangsa. Beberapa hari yang lalu, Barack Obama memberikan pidato tahunannya di depan Kongres Amerika Serikat. Sebuah statementnya yang masih terngiang-ngiang di telinga saya hingga hari ini adalah, “In the 21st century, one of the best anti-poverty programs is a world-class education” (Di abad ke-21, salah satu program anti kemiskinan yang paling baik adalah pendidikan kelas dunia). Saya pikir pernyataan ini perlu dipikirkan secara serius oleh setiap orang Indonesia. Jika Indonesia tidak mementingkan pendidikan, maka jangan harap manusia-manusia Indonesia bisa keluar dari kemiskinan. Kata Tantowi Yahya dalam sebuah iklan, “Kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan.”
OK, pendidikan itu penting, tapi mengapa studi di Amerika? Apa keuntungannya studi di Amerika? Saya sering diajukan pertanyaan ini oleh orang lain. Mengapa tidak studi saja di Indonesia? Pertama, anda bisa mendapatkan pengalaman yang berbeda. Anda bisa belajar dari masyarakat Amerika pada umumnya. Anda bukan saja akan berinteraksi dengan dunia pendidikan, anda juga akan melihat bagaimana pemerintah Amerika mengatur lalu-lintas mereka. Anda akan menyaksikan hebatnya pemerintah Amerika memberikan social security kepada masyarakat. Dengan demikian, ketika anda kembali anda bisa membawa hal-hal yang baik dari Amerika untuk memajukan Indonesia. Kedua, jika anda studi di Amerika anda tidak akan pernah kehabisan resources untuk research. Buku apa saja, journal apa saja, tulisan-tulisan yang tidak terpublikasikan (unpublished materials), dll. bisa anda dapatkan. Di Indonesia, terus terang, berat sekali untuk anda mendapatkan sumber-sumber se-kaya itu. Ketiga, environment akademis di sekolah-sekolah Amerika kuat sekali. Saya selalu terkagum-kagum melihat anak-anak muda Amerika yang berusia dua puluhan tahun mendiskusikan masalah-masalah filosofis, ekonomi, sosial, dll., dengan begitu dalam. Persaingan akademis juga begitu kuat, sehingga mau tidak mau membentuk kita menjadi orang-orang yang berjuang untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik. Keempat, anda bisa belajar di bawah dosen-dosen yang berkualitas tinggi. Untuk menjadi seorang dosen di Amerika, ada proses yang cukup panjang dan rumit yang harus dilewati. Mengapa? Karena setiap sekolah ingin memastikan bahwa mahasiswa bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik. Interaksi dengan dosen-dosen di Amerika benar-benar merupakan pengalaman yang sangat memperkaya setiap mahasiswa. Kelima, tugas-tugas akademis (assignments) untuk memenuhi tuntutan sebuah mata kuliah di-design sedemikian rupa sehingga anda bisa mendapatkan sebanyak mungkin dari mata kuliah tersebut. Sebagai contoh, untuk sebuah mata kuliah yang sedang saya ambil sekarang di Claremont Graduate University, buku yang kami wajib baca ada sekitar 20an. Belum lagi buku2 pendukung lain bagi mata kuliah tersebut. Anda akan dipaksa untuk membaca dan mengembangkan wawasan anda. Anda akan dibentuk untuk suka buku dan berinteraksi secara kritis dengan bacaan anda.
Tapi, apa persoalan mengenai pendidikan yang paling sering dikeluhkan orang? BIAYA. Pendidikan selalu mahal. Hampir tidak pernah kita menemukan pendidikan yang berkualitas tinggi dengan harga rendah. Saking mahalnya kebanyakan orang Amerika yang studi terpaksa harus mengambil loan dari pemerintah Amerika yang pada akhirnya dia harus cicil kembali setelah wisuda. Mengapa begitu mahal? Perlu anda pikirkan bahwa untuk mengembangkan sebuah institusi pendidikan diperlukan dana yang cukup besar. Anda tinggal hitung saja berapa dana untuk pengembangan dosen atau pembelian buku-buku untuk perpustakaan atau penyediaan fasilitas research, dll. Belum lagi kita berbicara mengenai gaji staff dan dosen. Selain study, saya juga bekerja di departemen cataloging di Perpustakaan Claremont School of Theology. Setiap kali buku baru tiba di perpustakaan ini, buku itu pasti melewati tangan saya dulu (he he he…). Itu untungnya orang yang kerja di perpustakaan, dia bisa baca buku-buku baru sebelum orang lain menyentuhnya. Saya kerap kali terkaget-kaget melihat harga buku yang begitu mahal. Kadang-kadang ada buku yang harganya bisa ratusan dollar Amerika. Dana dari mana? Salah satu pemasukan paling besar sebuah sekolah biasanya adalah dari mahasiswanya. Tidak heran biaya studi memang selalu mahal.
Untuk membiayai program-program pendidikan, sekolah-sekolah di Amerika bukan hanya tergantung dari tuition mahasiswanya, mereka juga mempunyai apa yang disebut sebagai endowment. Endowment adalah dana pemberian donatur-donatur untuk diinvestasikan kepada sebuah institusi pendidikan. Biasanya uang pokok endowment itu tidak dipergunakan, hanya bunganya saja yang dikeluarkan untuk operasional sekolah. Sekarang ini, setahu saya, endowment terbesar dimiliki oleh Universitas Harvard. Menurut Wikipedia, endowmentnya Harvard adalah sekitar 25.62 milliar dollar. Cadangan devisa negara Indonesia kira-kira sekitar 57an miliar dollar. Itu berarti uang yang dimiliki oleh universitas Harvard jumlahnya sekitar setengah cadangan devisa Indonesia. Ingat, itu hanya sebuah universitas, bukan sebuah negara.
Apa yang saya gambarkan di atas hanya merupakan latar belakang dari apa yang mau saya sampaikan kepada anda dalam posting-posting berikutnya. Jika anda tertarik untuk studi di Amerika. Dana itu ada!! Anda mungkin tidak akan bisa meminta loan dari pemerintah Indonesia. Tapi jangan kuatir, dana untuk studi itu ada. Pertanyaan yang terpenting perlu anda ajukan terus-menerus adalah “apakah saya layak (eligible) untuk mendapatkan dana itu?”
Kita akan lanjutkan obrolan ini lagi di waktu ke depan.
Salam.
Salam Eka,
senang sekali membaca uraian awal Eka, khususnya ttg beasiswa dan kesempatan studi di Amerika. Almarhum Gus Dur adalah sosok yang tidak mau ikut dalam skenario “clash of civilization”, dan ia mendorong komunitasnya (NU) menjadi umat yang berlajar, “learning civilization”, dan caranya tentu ialah studi dan mencari beasiswa di Barat (Eropa dan Amerika).
JUga, walau pendekatannya bukan struktural, orang melihat -spt Eka catat-, bahwa kemiskinan bisa diatasi dengan studi (katakanlah ini teori kelas menengah: sebab studi menjadi jalan mobilisasi sosial meraih posisi kelas menengah).
Namun perlu saya tambahkan beberapa di sini, apalagi soalnya ialah studi teologi. Kira yang berkesempatan studi, akhirnya jangan pula menjadi penyalur alias pengecer pikiran-pikiran teologi Barat. Tentu tak perlu lantas menjadi anti Barat. Maksud saya, yang kita perlu cari ialah inter atau trans-contextual dialogue antara teologi Barat dan teologi lokal kita.
Tentu ini mengundang kesulitan baru: apakah kita punya suara, apakah kita punya wawasan teologis yang memadai untuk bersanding dan berdialog dengan Barat? India telah berhasil medorong Barat mempelajari teologi “subaltern” dengan pendekatan postcolonial, sementara kita Indonesia amatlah perlu mengajukan suaranya juga…
Agar kita punya suara, maka PR di negeri sendiri juga harus diselesaikan: teologi lokal, institusi teologis, umat yang hidup berteologi..dstnya
Jadi, studi di Barat mengundang proses double: masuk ke dunia canggih Barat (labirin sekular yang kompleks), namun membawanya dalam dialog dengan serat serat teologis kita (yang tampaknya masih tipis, skin deep…).
salam dan selamat studi…
martin sinaga
Pak Martin,
Terima kasih untuk commentnya. Saya 100% setuju dengan pendapat pak Martin. Orang Indonesia harus mengeluarkan suara-nya di dunia Barat. Saat ini saya sedang mengambil kelas “Theology of God in the Age of Globalization” dengan Dr. Anselm Min dari CGU, dan semakin saya memikirkan mengenai teori-teori serta tantangan-tantangan globalisasi, saya semakin merasa seperti korban (victim). Kompleksitas globalisasi sudah mengarah kepada pembentukan imperialisme barat yang baru. Bahkan ada seorang teman saya dari India mengatakan bahwa post colonial studies sediri sudah diambil alih juga oleh kaum kolonial. Tp pertanyaannya apakah kita mau terus menjadi victim? Itu kan semua tergantung dari kita juga. Saya pikir kualitas manusia Indonesianya perlu dibentuk sedemikian rupa untuk mampu berpikir dan bersaing dalam dunia internasional. Bagaimana kita bisa mendorong (atau memaksakan) orang barat berpikir mengenai teologi yang berwawasan Indonesia, kalau kita sendiri menulis selalu dalam bahasa Indonesia? Ya, saya setuju dengan pak Martin, itu PR kita yang cukup besar ke depan.
Saya tunggu sumbangan pemikiran lain dari pak Martin. BTW, saya senang kalau sekali waktu pak Martin bisa menyumbang sebuah artikel pendek di blog ini.
Bagi Indonesia untuk menuai keuntungan dari pendidikan Amerika, sangat penting bagi Indonesia yang belajar di Amerika untuk kembali ke Indonesia.
Thank you pastor Pete.
Pak Martin dan Eka,
Corporate keserakahan Imperialisme di Amerika tidak hanya merugikan negara berkembang tapi itu yang menyebabkan kelas menengah Amerika untuk menjadi lebih ekonomis yang kurang beruntung, yang miskin.
Saya bukan seorang pendeta, Pendeta Eka
Google is really amazing pastor Pete! You can communicate with us in our language. Have you seen a website on the Church of Google? They said that anything that God can do, Google can do it. hehehehe….
check this out: http://www.thechurchofgoogle.org/
People worship google nowadays.
Thx u/ infonya Bu Eka…Semoga info yg diberikan bermanfaat u/ semua org Indonesia khususnya Orang maluku..
Syalom, nama saya stevany tetelepta, saat ini saya terdaftar sebagai mahasiswa STT Syalom Bandar Lampung jurusan S.Th. Misi, semester 8, dan sedang menunggu sidang skripsi. Saya tertarik untuk mengambil kuliah S2 di amerika. Dan saya sangat terbantu dengan tulisan bapak.
Sekitar 3 bulan terakhir, saya browsing di internet mengenai beasiswa di amerika, namun ternyata waktu pendaftarannya sudah sangat dekat (AMINEF: 15 April 2011 untuk tahun ajaran 2012) sementara sidang skripsi saya baru akan digelar tanggal 9 februari 2011, dan wisuda baru akan diadakan pada Mei 2011. Saya ingin bertanya, sewaktu bapak mengajukan beasiswa studi, bapak mengajukan kemana (apakah lewat AMINEF) dan proses dari pendaftaran hingga pengumuman berapa lama, juga apakah bapak ada usul lain mengenai beasiswa untuk saya?
terimakasih pak.
Jbu
Stevany,
Beasiswa bisa didapatkan dimana2. Fullbright bukan satu-satunya jalan untuk menuju ke Amerika. Sekolah2 di Amerika juga menyediakan beasiswa kepada mahasiswa mereka. Contohnya, tahun ini Emory University dan Claremont School of Theology menyediakan beasiswa penuh kepada mahasiswa master. Deadline untuk pendaftaran di Claremont tanggal 10 January, dan Emory tanggal 15 January.
Untuk program S3 di sekolah2 besar di Amerika hampir semuanya menyediakan dukungan dana penuh kepada mahasiswa.