Mengapa Pentakostalisme Begitu Anti-Intelektual?
Mungkin anda kaget mendengar pertanyaan saya di atas. Tapi itu adalah fakta yang masih cukup enggan dibicarakan secara terbuka dalam gerakan Pentakosta. Minggu lalu, saya mengunjungi rumah seorang gembala sidang gereja Pentakosta di Los Angeles. Ketika memperkenalkan diri kepada beliau dan menyatakan bahwa saya dulu dosen di sekolah teologi dan sekarang sedang menempuh pendidikan di Claremont School of Theology. Anda tahu apa respon hamba Tuhan ini? ”Jangan sekolah tinggi-tinggi… nanti ngaur jadinya!” Saya benar-benar terkejut mendengar hal itu. Secara otomatis langsung saja saya responi, “Jangan sampai bodoh juga pak… nanti ngga kalah ngaurnya!” ”Biar bodoh… yang penting tulus” katanya. Percakapan pendek ini sebenarnya bisa memberikan gambaran mengenai bagaimana persepsi pendeta-pendeta Pentakosta terhadap pendidikan. Waktu pulang, saya berpikir, apakah hamba Tuhan ini mau anaknya sekolah sampai SD saja? Kan yang penting tulus? Saya tidak akan percaya sama sekali bahwa beliau akan menghalangi anaknya sekolah tinggi karena bertahan dengan pola pikir seperti itu. What is wrong with this?
Tahun lalu saya memesan sebuah buku dari sebuah toko Kristen online. Judul buku itu adalah “Full Gospel, Fractured Minds? A Call to Use God’s Gift of the Intellect“ oleh Rick M. Nanez. Harganya cukup murah, hanya 1 dollar (sekitar Rp. 9000). Menarik sekali, buku ini dibuka dengan selembar catatan pendahuluan oleh Dr. Stanley Horton, seorang tokoh Gereja Sidang Jemaat Allah di Amerika yang sangat dihormati. Demikian pernyataan Dr. Horton:
I congratulate Rick Nanez as a Pentecostal author for his insight into our need for sharpening Pentecostal minds. Though there has been a significant increase in the number of Pentecostals who are seeking higher education, too many still do not see the need. True, I have learned much from sincere Christians with little education – and that keeps me humble. Yet God definitely led me to the University of California, where I studied science, then to Gordon Divinity School, Harvard University, New York Theological Seminary, and Central Baptist Theological Seminary. I learned that in-depth study of the Bible, biblical languages, archaeology, psychology, philosophy, other religions, and church history sharpened my appreciation for the truth of God’s Holy Word and helped me to realize my dependence on the Holy Spirit for guidance. All my writing has come from study of God’s Word and prayer. God has continued to guide me throughout the eighty-years of my life.
(Saya mengucapkan selamat kepada Rick Nanez, seorang penulis Pentakosta, untuk wawasan yang diberikan mengenai kebutuhan kita untuk mempertajam pemikiran-pemikiran Pentakosta. Sekalipun telah terjadi perkembangan yang cukup signifikan dalam jumlah orang-orang Pentakosta yang menempuh pendidikan tinggi, terlalu banyak orang Pentakosta yang masih tidak melihat kebutuhan ini. Ya benar, saya belajar banyak dari orang-orang Kristen yang tulus dengan pendidikan rendah – dan hal itu terus membuat saya rendah hati. Tapi Allah jelas memimpin saya ke University of California dimana saya belajar science, kemudian ke Gordon Divinity School, Harvard University, New York Theological Seminary, and Central Baptist Theological Seminary. Saya belajar bahwa pendalaman Alkitab, bahasa asli Alkitab, arkeologi, psikologi, filsafat, agama-agama lain, dan sejarah gereja, telah mempertajam penghargaan saya kepada kebenaran kitab suci-nya Allah dan menolong saya untuk menyadari ketergantungan saya kepada tuntunan Roh Kudus. Semua tulisan saya lahir dari studi Firman Allah dan doa. Allah telah terus membimbing saya melewati delapan puluh delapan tahun hidup saya.)
Buku ini memang sudah cukup lama ada dalam koleksi pribadi saya, tapi saya belum sempat membacanya sampai selesai. Terus terang, karena pengalaman malam itu cukup mengganggu saya, akhirnya saya pun mengambil buku ini. Rasa ingin tahu kog bisa sih orang-orang Pentakosta begitu anti-intelektual membuat saya membuka lembaran demi lembaran karya Nanez ini. Tema umumnya sangat jelas, yaitu mengenai sikap dari orang-orang Pentakosta dari sejak awal gerakan ini hingga masa kini terhadap penggunaan intelek dalam pelayanan. Pada bab 9, “Modern Culture, Anti-Intellectualism, and Pentecostal-Charismatic Beliefs,” Nanez memberikan beberapa alasan mengapa sikap anti-intelektual ini begitu berakar dalam gerekan Pentakosta.
Pertama, banyak pemimpin-pemimpin awal Pentakosta tidak berpendidikan. Menurut Nanez, karena orang-orang ini berpendidikan rendah maka mereka membuat standard itu kepada para pengikut mereka. Seorang murid tidak akan pernah melewati gurunya. Nanez kemudian mengutip William Menzis yang menyatakan bahwa sekolah-sekolah teologi Pentakosta lebih banyak berfokus kepada pembentukan spiritualitas, daripada pengembangan akademis. Bahkan banyak orang-orang yang menempuh pendidikan teologi tidak menyelesaikan SMA. Sekolah-sekolah inilah yang kemudian memperkuat jaringan dan akar-akar anti-intelektualisme dalam gerakan Pentakosta.
Kedua, beberapa doktrin yang dipercaya oleh orang-orang Pentakosta sangat mendorong munculnya sikap anti-intelektualisme ini. Ada beberapa doktrin yang cukup menonjol dalam gerakan Pentakosta yang dibahas secara khusus oleh Nanez.
1) Doktrin baptisan Roh Kudus. Sepertinya ada ide dalam gerakan Pentakosta bahwa seorang pelayan Tuhan hanya perlu kuasa Roh Kudus saja untuk melayani. Kalau seorang sudah mendapatkan kuasa Roh Kudus melalui berbicara dalam bahasa Roh, maka ia sudah mendapatkan semua yang ia butuhkan untuk pelayanan. Memang kuasa Roh Kudus sangat diperlukan dalam pelayanan, tapi apakah itu satu-satunya yang dibutuhkan? Apakah itu bisa menggantikan tempat karunia intelek dalam pelayanan? Apakah orang yang melayani harus bodoh dulu baru dipakai Tuhan? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang perlu diajukan untuk mengkaji kembali pemahaman Pentakosta yang lama mengenai baptisan Roh Kudus.
2) Doktrin karunia-karunia perkataan. Karunia-karunia ini adalah karunia hikmat, bahasa Roh, penafsiran bahasa Roh, karunia pengetahuan, dan nubuatan. Pemahaman orang-orang Pentakosta mengenai karunia-karunia ini telah memperbesar potensi anti-intelektualisme dalam gereja. Tuhan bisa berikan semua itu, kata mereka, kita tidak perlu untuk mempelajarinya. Kita hanya perlu duduk di kaki Tuhan dan berdoa, bukan belajar. Karunia-karunia ini ‘diwahyukan’ oleh Allah. Untuk apa belajar bahasa asli, bukankah Roh Kudus bisa menerangkan semuanya itu kepada kita? Menurut Nanez, dia tidak menganggap bahwa karunia-karunia itu tidak penting. Ya, Roh Kudus bisa memberikan semuanya itu kepada kita. Tapi, pemahaman terhadap karunia-karunia itu yang mematikan kehidupan intelek kita adalah sebuah nonsense besar. Itu bukan maksud Alkitab waktu berbicara mengenai karunia-karunia tersebut.
3) Doktrin pengangkatan gereja (Rapture) – eskatologi. Sebenarnya doktrin ini bukan berasal dari gerakan Pentakosta, tapi dari konsep teologis dispensasionalisme yang diadopsi oleh banyak sekali pendeta Pentakosta. Yesus bisa datang hari ini atau besok secara tiba-tiba untuk mengangkat umatnya ke awan-awan, untuk apa belajar tinggi-tinggi? Ya, Yesus bisa datang kapan saja, tetapi apakah itu berarti bahwa kita tidak boleh belajar ke pendidikan tinggi? Itu adalah lompatan logika yang sama sekali tidak Alkitabiah. Eskatologi dalam Alkitab tidak pernah dipakai untuk mengeliminasi tanggungjawab manusia untuk bekerja keras dan belajar sungguh-sungguh. Bukankah Yesus sendiri mengatakan, “”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”? Nanez mengatakan, “I also believe, however, until he comes, we must study to show ourselves approved and love the Lord God with all our minds” (Saya percaya bahwa hingga Ia datang kembali, kita harus belajar terus untuk menunjukan bahwa kita tidak bercela dan mengasihi Tuhan Allah dengan segenap pikiran kita).
4) Doktrin pengudusan. Ide bahwa “daging” atau “hal-hal duniawi” itu berasal dari iblis dan harus dihindari rupanya diaplikasikan juga kepada penggunaan intelek dalam gereja. Umat Tuhan harus menjadi orang-orang yang kudus, yang berbeda dengan dunia. Kalau orang-orang dunia mengejar pendidikan di universitas-universitas, anak-anak Tuhan harusnya lebih banyak berdoa dan mencari Tuhan. Kita berbeda dari orang-orang dunia (sekular), kata mereka. Nanez menyatakan, “with this mentality, spiritual schizophrenia finds an ideal nesting ground.” Wah, cara berpikir seperti ini benar-benar sangat berbahaya. Apakah karena semua orang di dunia sikat gigi setiap hari, maka atas nama kekudusan kita tidak boleh sikat gigi? Ini adalah pola pikir yang benar-benar salah. Banyak hamba Tuhan yang begitu anti-intelektual dalam kepemimpinan dan pelayanan mereka. Tapi kalau itu sudah berurusan dengan anak mereka sendiri, herannya mereka kog tidak menjadi anti-intelektual lagi. Mereka sekolahkan anak-anak mereka setinggi mungkin, bahkan ada yang sampai ke luar negeri. Kenapa anak-anak rohani mereka tidak diperlakukan dengan cara yang sama? This is really unfair.
5) Doktrin “altar theology”. Ada pemahaman dalam gerakan Pentakosta bahwa kita bisa mendapatkan berkat atau penyucian atau pengudusan secara instan di altar Tuhan. Tidak heran di banyak sekali ibadah-ibadah Pentakosta, kita bisa melihat betapa pentingnya ‘altar call’. Sekolah-sekolah teologi Pentakosta lebih mementingkan pelayanan mimbar/altar daripada mempelajari Alkitab secara mendalam. Banyak pendeta-pendeta Pentakosta dengan sangat mudah mengatakan, “Tuhan berbicara kepada saya…” Mereka tidak lagi mau susah-susah masuk dalam “proses” belajar. Tidak usah repot belajar paradigma bahasa Yunani dan Ibrani, bukankah kita bisa mendapatkan ‘pewahyuan’ dengan gampang di altar Tuhan? Bukankah Tuhan bisa berbicara secara langsung kepada kita? Hal ini secara tidak disadari telah menjadi iklim yang kondusif dalam Pentakostalisme dimana sikap anti-intelektualisme dengan leluasa dapat berkembang biak.
Demikian beberapa catatan yang penting saya dapatkan dari buku ini. Saya berharap kita bisa bercermin dan memperbaiki diri ke depan. Beberapa hari yang lalu saya membaca di website Gereja Sidang Jemaat Allah bahwa telah ada wacana diantara para pemimpin gereja untuk mengembangkan Seokolah Tinggi Teologi Satyabhakti di Malang menjadi sebuah Perguruan Tinggi. Anda bisa membaca mengenai hal tersebut disini. Ini, terus terang, adalah berita yang sangat menggembirakan hati saya. Tapi setelah selesai membaca artikel tersebut, sebuah pertanyaan muncul di benak saya, apakah kita sudah siap untuk perubahan itu? Apakah hamba-hamba Tuhan Pentakosta bersedia, secara penuh, mendukungnya? Saya berharap proyek ini bisa menjadi awal yang baik dari sebuah perubahan paradigma besar dalam gerakan Pentakosta di Indonesia.
Deo adjuvante non timendum
(Allah yang menolong, tidak ada yang perlu ditakuti).
wow…
ma kasih pa eka…
pemikiran kayak gini nih yang slalu buat saya ingin terus belajar..
sangat menantang saya sebagai anak pentacosta untuk menunjukan sikap menjunjung tinggi kekudusan dan intelectual.
thanks pa eka…
sama-sama Ian. Bagaimana kabarnya sekolah di Kupang?
Apalagi yang khusus di Perjanjian Lama ya k. Eka…. pasti belum ada sama sekali? Peluang nih.
Gab, betul sekali. Orang yang secara khusus mendalami Hebrew Bible di kalangan Pentakosta di Indonesia memang tidak ada sama sekali. Hope you will be the first one!
Tulisan ini semestinya memberikan pencerahan bagi kita yang berada dalam pentakostalisme. Namun memang arus besar mengalir ke arah yang berbeda. Sebagai contoh dewasa ini di gereja-gereja Pentakosta dalam hal pelayanan mimbar lebih di dominasi oleh khotbah-khotbah yang dari sisi penggalian Alkitab dangkal dan cenderung meninabobokan. Banyak juga berdiri Sekolah-sekolah teologi dengan mutu yang dipertanyakan. Bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa cukup banyak hamba-hamba Tuhan yang menyandang gelar Master ataupun Doktor dengan proses pendidikan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan (bahkan ada juga yang mengangkat dirinya menjadi professor). Masalahnya tidak ada kontrol sosial yang “menghukum” tindakan yang sesungguhnya anti intelektual dan cenderung narsis ini. Pemikiran yang positif untuk menjadikan SATI sebagai Universitas harus dikawal dengan baik. Kita tunggu saja action plannya dan figur yang akan memimpin untuk merealisasikan rencana ini.
Salam!!!
Ini memang ironi kehidupan, Welco. Banyak pendeta Pentakosta tidak suka pendidikan, tapi suka gelar. Orang-orang Pentakosta selalu menganggap sesuatu yang instan sebagai “MUJIZAT”. Lihat saja kesaksian2 di gereja-gereja Pentakosta. Segala sesuatu yang didapat dengan tiba-tiba, tanpa melewati proses yang panjang, biasanya dipercaya sebagai karya Allah. Tidak heran memang mereka senang sekali dengan gelar-gelar gampangan, tanpa proses belajar panjang dan memakan waktu yang semestinya dijalani, karena itu cocok sekali dengan worldview mereka.
uraian yg muantabb ro
first: thanks udah dibuat “versi” indonesianya…Tulisan ini sangat tepat untuk gereja “pentakosta/kharismatik di indonesia…saya kaget juga ternyata gelar STH, MTh bisa juga di beli..hanya ikut “kuliah kilat” dapat gelar Sth, Mth, bahkan Dmin dan Dth……haaa..lucu juga ya…mungkin biar dilihat “intelektual”…bingung khan…lalu mau dibawa kemana gereja Tuhan…ini juga menjadi kendala di gsja kaltim..banyak dari gembala2 kita di pedalaman yang hanya ikut sekolah misi 3-6 bulan lalu buka gereja dan gembalakan sidang..dan bisa ditebak pengajarannya seperti apa..dan Puji Tuhan BPD membuat terobosan dengan mengundang dosen2 SATI untuk ngajar blok….saya sangat setuju dengan apa yg dikatakan Nanez diatas “…mengasihi Tuhan dengan segenap pikiran kita.”…lha Tuhan kasih kita “otak” kan untuk dipakailah…bukan untuk aksesoris…saya kaget sebuah survey mengatakan Albert Eistein hanya menggunakan 10% dari kemampuan otaknya…rata-rata manusia hanya menggunakan 6-8 % saja kemampuan otaknya….nah lho…memang tidak semua bisa diselesaikan dengan”otak”, TETAPI “otak” diciptakan untuk digunakanlah …menurut saya sebenarnya alasan banyaknya cekcok dan perpecahan dalam gereja2 pentakosta/kharismatik karena pemimpin gereja “terlalu banyak mendengar bisikan” di banding apa kata Firman Tuhan sebenarnya haaa…..perlu di catat juga…pengenalan akan Tuhan itu melibatkan tubuh jiwa roh…intelektual ia..ngeroh juga ia..estetika juga ia…membuatnya menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan…saya ada kenal beberapa hamba Tuhan yang lengkap seperti itu…”jago” Alkitab gelarnya DTh..pelayanannya juga disertai dengan “tanda2 pentakosta”..jumlah jemaatnya aja 4000an…ya saya harap setelah study di amrik Bro Eka dapat menjadi berkat bagi gereja Tuhan di indonesia…HIDUP Intelektual, Hidup ngeroh..PEACE!!!! eit lupa Hidup Pendeta Gaul……
Robert, kecurigaan banyak pemimpin Pentakosta terhadap pendidikan itu terlalu tinggi. Saya pikir, anggapan bahwa pengetahuan adalah ancaman kepada spiritualitas sudah tidak relevan lagi sekarang. Itu adalah pola pikir yang paling bodoh dan destruktif. Saya senang bahwa GSJA di Kaltim sudah memikirkan mengenai hal tersebut. Kemampuan intelek yang diberikan TUHAN kepada kita, bagi saya, adalah anugerah terbesar. Tanpa kemampuan tersebut, kita tidak ada bedanya dengan kucing dan anjing. Justru intelektual itulah yang membuat kita menjadi manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dengan kesanggupan untuk berpikir, manusia mampu untuk membuat internet, rumah, telpon, mobil, sepeda motor, dll. Peradaban anjing/kucing tidak pernah mencapai apa yang bisa dicapai oleh manusia karena mereka jelas tidak memiliki kemampuan tersebut. Semuanya itu tidak dicapai manusia melalui berdoa dan menangis, tapi dengan menggunakan karunia intelek secara maksimal. Tolong jangan salah mengerti, saya tidak mengurangi nilai emosionalisme dan spiritualisme disini. Maksud saya, manusia tidak hidup oleh emosinya saja. Kita perlu mengejar keseimbangan yang baik antara aspek-aspek kemanusiaan kita (pemikiran, emosi, intuisi, spiritualitas, dll.). Dengan demikian kita bisa menjadi manusia yang UTUH.
sungguh kenyataan yang tidak bisa di hindarkan pada dasarnya orang Pentakosta melihat segala sesuatu yang terjadi tampa proses/instant adalah mujizat, namun untuk situasi sekarang ini sangat tidak relevan, kondisi instant adalah virus pembodohan dan jelas kebanyakan kita koleksi Doktor abal-abal dan sebagainya hingga yang ngajarnya tersesat apalagi yang diajar bodohnya bukan main.
bung beta jadi termotifasi untuk belajar lebih sungguh2 lae
thanx untuk artikel yang hebat, Paling tidak orang pentakosta berterimahkasih dengan orang2 seperti kaka dong dhanke well
Betul sekali Herold. Virus pembodohan seperti itu perlu diberantas dari gerakan Pentakosta. Sudah saatnya anak-anak muda bangkit dan menciptakan anti-virus yang terbaik untuk itu. Kita perlu melawan arus itu, karena kita tidak hidup lagi di tahun 1950an atau 1960an. Sekarang ini abad 21, yang dipenuhi dengan teknologi tinggi dan persaingan global. Dunia sudah berbeda.
Salam Perubahan Sahabatku, “CHANGE, Yes We Can!”
Karya Roh Kudus dalam menginspiraskan setiap penulisan dalam Alkitab memang sungguh ajaib dan luar biasa. Roh Kudus telah mengurapi beberapa penulis Alkitab yang memiliki latar belakang yang unik dalam kepribadian mereka masing-masing. Ada yang memiliki latar belakang pemikiran yang sederhana seperti seorang nelayan (Petrus), ada juga yang memiliki latar belakang pemikiran medis (dr.Lukas), bahkan ada yang berasal juga dari pemikir teologis (Paulus).
Semua mereka memiliki keunikan tersendiri dalam cara penulisan Kitab Suci. Dapatkah kita berkata, bahwa Petrus adalah seorang pemikir pentakosta yang sangat diurapi penulisannya, atau dr.Lukas adalah seorang cendikiawan yang sangat praktis dalam tulisannya, atau Paulus adalah seorang teolog klasik yang progresif dalam setip pemikirannya melalui surat-surat penulisannya.
Bagi saya entah Petrus, dr.Lukas dan Paulus, mereka adalah orang-orang yang telah dipakai oleh Roh Kudus untuk “Tabaos Kebenaran Firman TUHAN” dengan jelas, berani dan tegas!
Hal ini berarti, kita tidak bisa menyempitkan karya Roh Kudus bekerja dalam diri orang percaya! Roh Kudus dapat saja memakai orang yang sangat sederhana seperti tukang memperbaiki sepatu untuk menjadi penginjil yang menjangkau dunia dengan demonstrasi kuasa Allah. Roh Kudus juga dapat memakai kaum cendikiawan dan para pengusaha untuk memberitakan Injil Kasih Karunia Allah dengan berani dan menyentuh realitas kehidupan. Demikian Roh Kudus juga dapat memakai para teolog untuk mengungkapkan kebenaran Firman TUHAN dengan ‘benar, tegas dan terpercaya’ bagi Gereja TUHAN sehingga umat TUHAN tidak salah dalam pengenalan akan TUHAN!
Bila pergerakan Pentakosta hanya mengakui Roh Kudus berkarya bagi orang-orang yang sederhana dalam latar belakang pemikiran mereka maka kita sementara menyempitkan karya Roh Kudus untuk menyelamatkan sekian milyard manusia dengan latar belakang mereka yang berbeda-beda dan unik.
Jadi, kadang pemikiran kita terbatas dan membatasi Roh Kudus sesuai dengan pengalaman kita. Kadang juga pemikiran kita luas dan tidak membatasi pemikiran kita sesuai kebenaran Firman TUHAN dalam Alkitab. Kesimpulannya adalah kebenaran Pentakosta adalah PENYERAHAN DIRI YANG MUTLAK DALAM TUNTUNAN ROH KUDU! Tidak peduli latar belakang hidup Anda, namun perlu ‘dipedulikan’ kesiapan diri kita untuk menjadi saksi Kristus yang menyentuh selurh dimensi kehidupan manusia! “Firman Harus Menjadi Daging Tetapi Tidak Kedagingan! Dan Gereja Harus Mendunia Tetapi Tidak Boleh Duniawi!
Salam Perubahan!
Bung Lesly, thanks buat komentar-nya yang menantang kita semua untuk tunduk di bawah tuntunan Roh Kudus. Beta hanya bisa bilang.. “AMEN” untuk semua yang bung katakan. Ya, kita perlu berubah terus-menerus untuk menjadi lebih baik setiap hari. Salam!
Artikel yang menarik dan begitu menggugah hati Kak Eka…Terus terang saya pun merasakan “syndrome anti-intelektual” ini di dalam kalangan gereja Pentakosta secara khusus di dalam gereja dimana saya dibesarkan yang memiliki dualisme kepemimpinan di dalamnya yaitu antara Intelektual dan Anti-Intelektual. Dan dua kubu ini begitu kuat berkembang subur di dalam gereja saya yang sempat membuat saya menjadi gamang ketika mengambil keputusan untuk melanjutkan studi S1 di STT SATI setelah lulus D3 karena salah seorang yang begitu berpengaruh di dalam gereja mengatakan kepada saya bahwa tidak perlu sekolah tinggi-tinggi lebih baik keluar dan melayani karena ladang Tuhan sudah menguning dan siap dituai sedang pekerja sedikit. Kontras dengan hal tersebut bahwa Gembala Sidang justru menasihatkan saya jika ada kesempatan sekolah tinggi-tinggi dan dengan baik karena dengan intelektualitas yang baik maka banyak orang akan “terpengaruh” untuk di bawa kedalam Kerajaan Allah. Dan tampaknya perkataan ini yang memotivasi dan membentuk saya sampai hari ini untuk terus belajar dan terus belajar sampai akhir hayat karena betul seperti yang Kak Eka bilang bahwa dunia kita terus berubah maka jika kita tak berubah kita hanya terlihat seperti “Pendongeng Firman Allah” yang sesungguhnya memiliki pemahaman yang dangkal mengenai Firman Allah tersebut. Seperti perkataan Johann Chritoph Friedrich von Schiller dalam tulisan-tulisannya. Bunyi tulisan itu adalah:
“Abadnya abad besar yang melahirkan zaman besar, namun momen yang sebesar ini hanya mendapatkan manusia kerdil.”
Tentu saja saya yakin kita tidak mau menjadi “manusia-manusia kerdil” di tengah-tengah atus perubahan yang begitu besar di dalam dunia kita.
Sekedar untuk info sekarang ini gereja-gereja Pentakosta non-GSJA di Batam begitu haus dengan pengajaran Firman Allah yang sehat untuk itu kerapkali dosen-dosen dari sekolah kami diundang untuk “menyehatkan” mereka yang mungkin sudah terlalu lama “diracuni” dengan makanan basi dan busuk dari “Pendongeng-pendongeng” Alkitab.
Terakhir, saya ingin mengutip perkataan Donald Gee, salah seorang Bapak Pentakosta modern dari Inggris, pernah menulis:
“If You have the Spirit, without the Word, you will blow up.
“If You have the Word, without the Spirit, you will dry up.
But, If you have both, the Spirit and the Word, you will grow up.”
Kiranya Roh Kudus akan selalu menolong kita semua dan meyakinkan kita untuk melakukan perubahan paradigma mulai dari diri kita dan terus meluaskannya kepada dunia di sekitar kita.
Tuhan Memberkati Kita Semua.
Great thought Victor! Sebenarnya yang perlu dikembangkan bukan intelektualisme belaka, dimana kita menjadi seperti kaum humanis yang ada di dunia Barat saat ini. Tapi racun-racun anti-intelektual dalam gereja Pentakosta perlu diberantas habis karena itu bisa menjadi bumerang yang mematikan kita sendiri. Kita perlu membentuk manusia-manusia yang cinta TUHAN, tapi pada saat yang sama memaksimalkan karunia intelek yang diberikan oleh Tuhan. Saya senang sekali dengan kutipan dari Donald Gee itu. Thanks!
tanggapan2 dari teman2 mengenai tulisan ini sangat menarik…mungkin kedepan perlu dilakukan usaha-usaha konkrit untuk menyehatkan “pola pikir pentakosta” yang selama ini telah banyak merasuk gereja2 di indonesia…ya tentunya dimulai dari kitalah..cendrung memang kondisi akhir zaman..manusia senang dengan”yang enak didengar”….berkat, kesembuhan…dll..terkadang memang dalam pelayanan sya pun sulit untuk tdk mengikuti “selera pasar”….tulisan diatas menantang saya untuk lebih bertanggung jawab dalam pengajaran yg akn disampaikan…thank bro eka membuat saya lebih UTUH…
Pak Eka,
Saya senang membaca tulisan pak. Mengutip tanggapan pak diatas, saya juga hanya bisa berkata “Amin.” Saya sudah membaca buku Nanez tsb sampai habis dan tahun lalu saya juga menterjemahkan buku tsb untuk Gandum Mas. Hari gini “titik seimbang” itu tetap terkatung-katung.
O iya, kemarin ketika saya jalan2 antar anak main2 melewati toko buku Gunung Agung, saya melihat sebuah referensi buku (yang saya lupa judulnya) yang iklannya mengatakan bahwa buku tsb dampaknya bagi generasi kita akan sama seperti “Pilgrim’s Progress-nya” John Bunyan di zamannya. Kalo iklan itu benar maka buku itu sangat layak dibaca. Nanti sore mungkin saya akan ke toko buku itu lagi.
Eka, I am counting on you. I do respect and honor you and the path you’ve chose.
@ Kak Eka: Ya betul maksud saya juga adalah keseimbangan antara spiritualitas dan intelektualitas. Saya merasa jika bicara mengenai membentuk manusia rohani kita di dalam spiritualitas bukan menjadi barang baru karena tradisi dan warisan pentakosta kita telah memberikan penekanan kuat disana.
Itu sebabnya komentar saya kelihatan lebih banyak menekankan kepada pembentukan intelektualitas kita dari golongan Pentakosta namun sebenarnya saya tidak mengabaikan pembentukan spiritualitas kita karena saya pribadi memegang teguh warisan dan tradisi spiritualitas pentakosta yang mengalir dengan kental di dalam diri saya.
Namun saya merasa itu saja tidak cukup menjadi modal kita sebagai orang-orang pentakosta jika kita tidak mau dipandang sebelah mata oleh kaum Injili karena kita lebih banyak menitikberatkan “pengalaman pentakosta” ketimbang pemikiran teologis yang bertanggung jawab dalam fenomena “pengalaman pentakosta” tersebut.
Jadi saya sangat sependapat dengan pendapat Kak Eka mengenai keseimbangan antara spiritualitas dan intelektualitas karena saya percaya Tuhan menghendaki hal tersebut ada dalam diri kita ketika kita melayani-Nya.
Blessings,
Victor Paais
Sedikit share aja Pace…
Sekitar 10 tahun yang lalu ketika saya masih gabung di STTE, saya dan Gordon sedang duduk dalam ibadah KKR di gereja kami di Bekasi. Saya ingat pembicara KKR waktu itu berkhotbah dengan semangat 45 dan dengan berapi-api mengatakan bahwa ia tidak perlu kuliah sekolah teologi, yang penting urapan RK. Kami yang duduk di belakang agak merah karena hamba Tuhan itu kenal dengan kami berdua dan ia tahu kami sedang mengambil studi teologi.
Menurut kami berdua (kiranya Tuhan ampuni kami, karena kami jadi kasi komentar khotbahnya saat itu) khotbah beliau itu datar-datar saja, karena jemaat di Bekasi terbiasa mendengar khotbah yang sistematis, menarik dan mengubahkan. Wajar saja Gembala kami juga seorang dosen sekolah teologia..dan cita rasa cukup variatif: ada rasa Ambon, Jawa dan Batak. Ini sih tidak terlalu penting bung!!
Yang rese’nya adalah beberapa bulan kemudian, STTE mengadakan seminar dan di akhir seminar setiap peserta menerima sertifikat. Para Peserta diminta untuk menuliskan nama lengkapnya untuk dicetak di sertifikatnya.
Kebetulan Hamba Tuhan yang kasih KKR di gereja kami turut hadir sebagai peserta. Sepengetahuan kami berdua, beliau tidak kuliah dan tidak ada gelar S.Th di belakang namanya. Ketika seminar selesai dan sertifikat dibagikan ke seluruh peserta, beliau komplain dan marah-marah di kantor kami.
Yang menjadi masalah rupanya beliau sudah memiliki gelar S-1 entah dari mana (mungkin dari antah berantah)… tidak ketahuan kuliahnya… so terpaksa kami harus mengganti sertifikat beliau tersebut (tentu keluar dana ekstra, dan itu dihitung sebagai kelalaian panitia).
Yah saya dan bro Gordon hanya bisa mengelus dada kami yang pada waktu itu masih halus dan rata..hehehe… Rupanya ungkapan “tidak perlu kuliah teologi dan andalkan saja urapan RK” cuma untuk lip service saja… karena rupanya gelar S.Th., itu begitu menggiurkan dan menambah wibawa..
Jadi gejala yang menyolok saat ini adalah Pendeta2x senior kita tidak suka belajar tapi mau pake gelarnya saja.
Hare gene masih ada yang mau gelarnya tanpa mau cape2x belajar… hehehe TRAGIS!!
Saya kasihan melihat pendeta-pendeta seperti itu, Yoke.
wah ini link baru saya buka..sungguh menantang…saya sendiri rindu untuk selalu meng UP DATE dan UP GRADE diri saya dengan browsing info-info terkini. dan setiap bulan saya targetkan membeli satui buku.
soalnya pernah saya melayani kelompok kecil dan ternyata pemilik rumah langsung menkonfrontasi renungan yang saya bawakan dengan buku2 teologi; Erickson, Tafsiran-tafsiran keluaran Gandum Mas, Alkitab 3 Versi bahasa – belanda, Indonesia, KJV. sempet saya nervous. luar biasa juga ini jemaat yang sering kita bilang awam.
nah senadainya kita tidak meng UP DATE dan UP GRADE intelek kita apa jadinya?
saya hanya mau mengutip apa yang Martin Luther pernah katakan:
GEREJA YANG SELALU MEMPERBAHARUI DIRINYA….dan tentunya yang diperbaharui adalah juga intelek, spiritualitas, moralnya etc….
thx Bu..untuk artikelnya GBU
Dan, kita memang sudah hidup di era yang sangat berbeda. Konsep lama bahwa “urapan” saja sudah cukup, tidak lagi relevan, karena kita tidak melayani orang-orang bodoh.