Lagu Rohani dalam Film Romantis
Film “The Other End of the Line” (2008) mengkisahkan seorang gadis India, Priya Sethi (dimainkan oleh Shriya Saran), yang jatuh cinta dengan seorang pria Amerika, Granger Woodruff (dimainkan oleh Jesse Metcalfe). Priya bekerja di Mumbai, India, sebagai seorang call center operator sebuah perusahan Credit Card dari Amerika. Ia selalu memperkenalkan dirinya dengan para costumers sebagai Jennifer David yang tinggal di San Fransisco. Suatu ketika Granger hendak mengunjungi San Fransisco untuk keperluan business. Ia mengajak Priya (Jennifer David) untuk bertemu secara langsung dan membicarakan mengenai masalah-masalah yang ia hadapi dengan credit card-nya. Tanpa sepengetahuan orang tua, Priya memutuskan untuk berangkat ke Amerika menjumpai Granger di San Fransisco. Kedua insan dari dua bangsa yang berbeda ini akhirnya jatuh cinta dalam perjumpaan mereka yang singkat ini. Namun hubungan tersebut berantakan karena Granger menemukan bahwa sebelum Priya berangkat ke San Fransisco ia telah ditunangkan dengan seorang pria yang bernama Vikram oleh orang tua mereka. Priya kembali ke India sebagai seorang yang telah mempermalukan keluarga. Ia dipaksa oleh ayahnya untuk mencium kaki calon mertuanya dan memohon maaf dari keluarga mereka. Ketika tiba di rumah calon mertua, Priya bukannya minta maaf, ia malah menolak pertunangan tersebut. Apa yang terjadi dengan Granger di Amerika? Rupanya setelah Priya kembali ke India, Granger merasakan ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Dalam acara penikahan teman baiknya, Granger diminta untuk memimpin best man’s toast. Dalam kata-kata pengantar toast itu, Granger mengutip pernyataan temannya ketika ia bertemu dengan calon istrinya: ”Nothing should ever hold a man back from his future.” Rupanya pernyataan tersebut mengingatkan Granger kepada Priya di India. Tanpa mengakhiri toast itu, Granger langsung meninggalkan acara penikahan menuju ke airport dan terbang ke India. Singkat cerita, kedua sejoli ini berjumpa kembali di Mumbai dan mendapatkan restu dari orang tua Priya untuk melangsungkan hubungan mereka.
Film ini sangat menarik karena ada nilai-nilai Asia dan Amerika yang dikombinasikan di dalamnya. Namun, di paruhan kedua film tersebut, saya dikagetkan oleh munculnya sebuah lagu rohani kontemporer oleh Michael W. Smith, Breathe. Ini adalah sesuatu yang benar-benar tidak biasa. Kalau anda lupa, lirik tersebut seperti ini:
This is the air I breatheThis is the air I breatheYour holy presence living in meThis is my daily breadThis is my daily breadYour very word spoken to meAnd I… I’m desperate for youAnd I… I’m I’m lost without you
Sewaktu saya masih di Indonesia, banyak sekali saya temukan orang mengubah lagu-lagu non-Kristen untuk dijadikan pujian kepada TUHAN di dalam gereja. Ada beberapa orang yang pernah bertanya kepada saya mengenai keabsahan dari praktek tersebut. Namun hari ini baru saya temukan bahwa ada lagu rohani yang dipakai dalam film romantis. Apa pendapat anda? Dapatkah lagu yang ditujukan kepada TUHAN dipakai sebagai background sebuah kisah cinta antara dua manusia?
Ini adalah potongan dari film tersebut yang menggunakan lagu rohani Breathe: