Skip to content

Proses Penyalinan Manuskrip Alkitab di Masa Lalu

January 4, 2012

Banyak dari kita sudah mendengar bahwa manuskrip-manuskrip (MSS) Alkitab kuno, terutama sebelum ditemukannya mesin percetakan, memiliki banyak sekali perbedaan salinan (variants).  Tapi mengapa perbedaan-perbedaan itu bisa muncul?  Salah satu penyebab terjadinya perbedaan dalam MSS kuno Alkitab adalah pada proses penyalinan itu sendiri.  Informasi berikut ini saya terjemahkan dan sadur dari tulisannya Bruce Metzger dan Bart Ehrman, The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration (edisi ke-4), hal. 24-29.  Mungkin banyak dari anda yang sudah mengetahuinya, tapi yang belum pernah mendengarnya ini bisa memperkaya pengetahuan kita mengenai Alkitab.

Dalam masa-masa awal gereja, manuskrip-manuskrip Alkitab diproduksi oleh individu-individu Kristen yang mau untuk menyediakan bagi diri mereka sendiri atau bagi jemaat-jemaat lokal copy (salinan) tambahan dari salah satu atau beberapa kitab dalam Perjanjian Baru.  Karena jumlah orang Kristen terus bertambah dengan sangat cepat pada abad-abad awal perkembangan kekristenan, salinan tambahan dari kitab suci dicari lebih banyak oleh petobat-petobat baru dan gereja-gereja baru.  Sebagai hasilnya, kecepatan produksi lebih dipentingkan daripada ketepatan salinan.  Lebih lanjut, untuk menyediakan terjemaahan-terjemahan atau versi-versi kitab suci bagi mereka yang tidak tahu bahasa Yunani, telah muncul lebih dari satu kali (seperti yang dikeluhkan oleh Agustinus) bahwa “siapa saja yang kebetulan memegang sebuah manuskrip Yunani yang kebetulan memiliki pengetahuan bahasa Latin dan Yunani, seberapapun kecil pengetahuan itu, dengan berani telah membuat terjemahan mereka sendiri” (De doctrina christiana,II.xi.16).

Namun demikian, ketika di abad ke-4 kekristenan mendapatkan status resmi dari pemerintah kekaisaran Romawi, penyalinan Perjanjian Baru lebih sering dikerjakan oleh perusahan penyalinan buku komersial (commercial book manufacturers), atau biasanya disebut dalam bahasa Latin sebagai scriptoria.  Dalam ruangan kerja di sebuah scriptorium, beberapa ahli penyalin (scribes) yang sudah terlatih, Kristen dan non-Kristen, dilengkapi dengan perkamen (kertas yang terbuat dari kulit binatang), pena, dan tinta, akan menulis sebuah salinan dari sebuah buku sementara seorang pembaca atau lector perlahan-lahan membaca dengan suara keras teks yang akan disalin.  Dengan cara ini, banyak salinan bisa diproduksi secara serentak ketika para penyalin bekerja di scriptorium.  Sangat mudah untuk kita mengerti bagaimana dengan metode reproduksi seperti ini kesalahan-kesalahan transkripsi hampir tidak mungkin terhindari.  Kadang-kadang si penyalin bisa kehilangan konsentrasi atau karena suara batuk dan keributan lain ia tidak mampu mendengar suara dari lector yang sedang membaca.  Lebih lanjut, ketika lector membaca dengan keras satu kata yang bisa dieja dengan beberapa cara yang berbeda (e.g., dalam bahasa Inggris kata-kata seperti great dan grate, atau there dan their), seorang penyalin harus menentukan kata mana yang sesuai dengan konteks itu, dan kadang-kadang ia menuliskan kata yang salah.

Supaya bisa memastikan akurasi yang lebih tinggi, buku-buku yang diproduksi di scriptoria pada umumnya dicek ulang oleh seorang korektor (διορθωτης) yang secara khusus dilatih untuk memeriksa kesalahan-kesalahan dalam proses penyalinan.  Catatan-catatan korektor ini dalam sebuah manuskrip biasanya dapat terdeteksi dari perbedaan dalam gaya tulisan tangan atau warna tinta.

Penyalin-penyalin yang dipekerjakan oleh sebuah scriptorium untuk melakukan sebuah proyek biasanya dibayar sesuai dengan jumlah baris yang mereka tuliskan. Ukuran panjang standard dari sebuah baris adalah sesuai dengan sebuah baris puisi, entah itu Homeric hexameter atau iambic trimeter.   Ketika sebuah karya prosa dikerjakan, sebuah baris yang disebut stichos, terdiri dari 16 (kadang-kadang 15) suku kata, sering kali digunakan sebagai ukuran untuk menentukan harga pasar sebuah manuskrip.  Sebuah aturan dikeluarkan pada tahun A.D. 301 oleh Kaisar Diocletian bahwa tarif upah dari para penyalin adalah 25 denarii untuk 100 baris dalam penulisan kualitas pertama, dan 20 denarii untuk jumlah baris dalam tulisan kualitas kedua (apa yang menjadi perbedaan di antara kedua kualitas ini tidak disebutkan sama sekali).  Menurut perhitungan dari Rendel Harris, biaya produksi dari sebuah Alkitab lengkap, seperti Codex Sinaiticus, adalah sekitar 30,000 denarii, sebuah jumlah yang sangat besar sekalipun sedang terjadi kenaikan inflasi.

Aplikasi dari perhitungan stichometrik ini juga dipakai sebagai ukuran untuk mengecek akurasi secara umum dari sebuah manuskrip, karena jelas sekali bahwa sebuah dokumen yang punya jumlah stichoi yang pendek adalah salinan yang kurang baik.  Di lain pihak, kalkulasi seperti ini masih jauh sekali dari pemastian kemurnian teks secara utuh, karena melalui perhitungan stichoi paling tidak hanya kelebihan dan omisi dari sebuah teks yang bisa terdeteksi.  Dalam manuskrip-manuskrip Injli-Injil yang memiliki informasi stichometrik, statistik yang sering muncul adalah sekitar 2,600 untuk Matius, 1600 untuk Markus, 2800 untuk Lukas, dan 2300 untuk Yohanes.  Angka yang lebih tepat, ditemukan dalam beberapa manuskrip, yaitu 2560, 1616, 2750, 2024, yang bisa mengimplikasikan, contohnya, kemunculan 16:9-20 dalam Markus, dan ketiadaan 7:53-8:11 dalam Yohanes.

Pada masa Byzantine, beberapa abad kemudian, salinan dari buku-buku diproduksi oleh para biarawan (monks).  Tekanan untuk memproduksi buku dalam monasteri-monasteri terasa lebih rendah daripada dalam scriptorium komersial.  Oleh karena itu, daripada menulis dengan cara didiktekan oleh seoranglector, seorang biarawan biasanya bekerja sendiri secara terpisah dalam ruangannya.  Ia mempersiapkan salinan kitab suci atau buku-buku lain untuk dirinya sendiri atau untuk para dermawan yang menyumbang kepada monasteri itu.  Metode penyalinan buku seperti ini mungkin tidak terbuka kepada kesalahan-kesalahan yang sama yang terjadi dalam metode diktasi, tapi ada satu set keadaan lain yang mereka alami yang membuat sehingga akurasi absolut juga sulit sekali untuk dicapai.  Dalam proses penyalinan itu, ada empat hal yang dilakukan: (1) membaca kepada diri sendiri (di masa kuno, tidak diragukan lagi ia akan membacanya dengan suara setengah keras) sebuah baris atau anak kalimat dari sebuah teks yang akan disalin, (2) menyimpan materi itu dalam ingatannya, (3) mendikte ulang materi itu kepada diri sendiri (entah dengan suara setengah keras atau tanpa suara sama sekali), dan (4) menggerakan tangan untuk menyalin apa yang diingat itu.  Sekalipun beberapa hal tadi itu dilakukan hampir secara serempak, masih tetap ada cukup kesempatan bagi pikiran seorang penyalin yang mungkin sudah lelah dan mengantuk untuk melakukan kesalahan yang fatal.

Lebih lanjut, sebelum adanya pena yang kita punya saat ini, seorang penyalin perlu untuk mengisi ulang tinta penanya dengan cara mencelupkannya dalam tempat penampungan tinta.  Karena proses pengisian ulang ini dilakukan berulang kali secara konstan, hal ini menyebabkan distraksi juga kepada si penyalin pada level matanya, ingatannya, keputusan yang harus diambil (judgment), dan pena-nya.

Selain berbagai penyebab psikologis, penyebab-penyebab eksternal dan fisiologis juga membuat sehingga akurasi absolut sangat sulit untuk dicapai. Kita perlu mengingat bahwa tindakan menyalin buku itu adalah sebuah pekerjaan besar dan melelahkan karena adanya tuntutan untuk berkonsentrasi secara konstan dalam waktu yang lama dan juga rasa keram yang muncul dalam otot-otot tubuh karena posisi berdiri atau duduk.  Mungkin ini kedengaran agak aneh bagi kita sekarang, tapi pada jaman dulu orang-orang tidak terbiasa untuk duduk di depan sebuah meja (table or desk) ketika mereka bekerja.  Dari bukti-bukti sastra dan artistik, kita menemukan bahwa hingga awal Abad Pertengahan, para penyalin buku biasanya berdiri (ketika membuat catatan-catatan pendek), atau duduk bersila di bangku yang tidak punya sandaran belakang (atau bahkan duduk di lantai) sambil memegang gulungan atau codex pada lutut/paha mareka.  Lihat gambar di bawah ini:

(patung seorang penyalin buku Mesir di Luvre, Paris)

Jelas sekali bahwa posisi duduk seperti ini jauh lebih melelahkan daripada duduk di depan sebuah meja tulis yang sebenarnya sudah cukup melelahkan jika seseorang menghabiskan 6 jam sehari selama berbulan-bulan.

Karena ini adalah sebuah pekerjaan besar, pada bagian akhir dari salinan, kita dapat melihat para penyalin mengungkapkan rasa lega mereka.  Dalam beberapa manuscript ada yang ditutup dengan pernyataan, “The end of the book; thanks be to God!”  :-)  Bruce Metzger lebih lanjut mengatakan, “In view of the difficulties involved in transcribing ancient books, it is the more remarkable how high was the degree of achievement of most scribes.”

Bersyukurlah kita sudah punya computer, scanner, photocopy machine, internet, dll., pada masa kini.  SELAMAT TAHUN BARU!!

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.