<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>TABAOS</title>
	<atom:link href="http://tupamahu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tupamahu.wordpress.com</link>
	<description>Ini adalah tempat untuk menyerukan (tabaos) kebenaran</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Jan 2012 16:57:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tupamahu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/bba00f5a0d35f28824f9d2ac99caab40?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>TABAOS</title>
		<link>http://tupamahu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tupamahu.wordpress.com/osd.xml" title="TABAOS" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tupamahu.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Proses Penyalinan Manuskrip Alkitab di Masa Lalu</title>
		<link>http://tupamahu.wordpress.com/2012/01/04/proses-penyalinan-manuskrip-alkitab-di-masa-lalu/</link>
		<comments>http://tupamahu.wordpress.com/2012/01/04/proses-penyalinan-manuskrip-alkitab-di-masa-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 16:57:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekaputrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biblika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tupamahu.wordpress.com/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[Banyak dari kita sudah mendengar bahwa manuskrip-manuskrip (MSS) Alkitab kuno, terutama sebelum ditemukannya mesin percetakan, memiliki banyak sekali perbedaan salinan (variants).  Tapi mengapa perbedaan-perbedaan itu bisa muncul?  Salah satu penyebab terjadinya perbedaan dalam MSS kuno Alkitab adalah pada proses penyalinan itu sendiri.  Informasi berikut ini saya terjemahkan dan sadur dari tulisannya Bruce Metzger dan Bart [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=477&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tupamahu.files.wordpress.com/2012/01/codex-vaticanus.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-483" title="Codex Vaticanus" src="http://tupamahu.files.wordpress.com/2012/01/codex-vaticanus.jpg?w=255&#038;h=300" alt="" width="255" height="300" /></a>Banyak dari kita sudah mendengar bahwa manuskrip-manuskrip (MSS) Alkitab kuno, terutama sebelum ditemukannya mesin percetakan, memiliki banyak sekali perbedaan salinan (variants).  Tapi mengapa perbedaan-perbedaan itu bisa muncul?  Salah satu penyebab terjadinya perbedaan dalam MSS kuno Alkitab adalah pada proses penyalinan itu sendiri.  Informasi berikut ini saya terjemahkan dan sadur dari tulisannya Bruce Metzger dan Bart Ehrman, <em>The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration</em> (edisi ke-4), hal. 24-29.  Mungkin banyak dari anda yang sudah mengetahuinya, tapi yang belum pernah mendengarnya ini bisa memperkaya pengetahuan kita mengenai Alkitab.</p>
<p>Dalam masa-masa awal gereja, manuskrip-manuskrip Alkitab diproduksi oleh individu-individu Kristen yang mau untuk menyediakan bagi diri mereka sendiri atau bagi jemaat-jemaat lokal copy (salinan) tambahan dari salah satu atau beberapa kitab dalam Perjanjian Baru.  Karena jumlah orang Kristen terus bertambah dengan sangat cepat pada abad-abad awal perkembangan kekristenan, salinan tambahan dari kitab suci dicari lebih banyak oleh petobat-petobat baru dan gereja-gereja baru.  Sebagai hasilnya, kecepatan produksi lebih dipentingkan daripada ketepatan salinan.  Lebih lanjut, untuk menyediakan terjemaahan-terjemahan atau versi-versi kitab suci bagi mereka yang tidak tahu bahasa Yunani, telah muncul lebih dari satu kali (seperti yang dikeluhkan oleh Agustinus) bahwa &#8220;siapa saja yang kebetulan memegang sebuah manuskrip Yunani yang kebetulan memiliki pengetahuan bahasa Latin dan Yunani, seberapapun kecil pengetahuan itu, dengan berani telah membuat terjemahan mereka sendiri&#8221; (<em>De doctrina christiana,</em>II.xi.16).</p>
<p>Namun demikian, ketika di abad ke-4 kekristenan mendapatkan status resmi dari pemerintah kekaisaran Romawi, penyalinan Perjanjian Baru lebih sering dikerjakan oleh perusahan penyalinan buku komersial (<em>commercial book manufacturers</em>), atau biasanya disebut dalam bahasa Latin sebagai <em>scriptoria.  </em>Dalam ruangan kerja di sebuah <em>scriptorium</em>, beberapa ahli penyalin (<em>scribes</em>) yang sudah terlatih, Kristen dan non-Kristen, dilengkapi dengan perkamen (kertas yang terbuat dari kulit binatang), pena, dan tinta, akan menulis sebuah salinan dari sebuah buku sementara seorang pembaca atau <em>lector</em> perlahan-lahan membaca dengan suara keras teks yang akan disalin.  Dengan cara ini, banyak salinan bisa diproduksi secara serentak ketika para penyalin bekerja di <em>scriptorium</em>.  Sangat mudah untuk kita mengerti bagaimana dengan metode reproduksi seperti ini kesalahan-kesalahan transkripsi hampir tidak mungkin terhindari.  Kadang-kadang si penyalin bisa kehilangan konsentrasi atau karena suara batuk dan keributan lain ia tidak mampu mendengar suara dari <em>lector</em> yang sedang membaca.  Lebih lanjut, ketika <em>lector</em> membaca dengan keras satu kata yang bisa dieja dengan beberapa cara yang berbeda (e.g., dalam bahasa Inggris kata-kata seperti <em>great</em> dan <em>grate</em>, atau <em>there </em>dan <em>their</em>), seorang penyalin harus menentukan kata mana yang sesuai dengan konteks itu, dan kadang-kadang ia menuliskan kata yang salah.</p>
<p>Supaya bisa memastikan akurasi yang lebih tinggi, buku-buku yang diproduksi di <em>scriptoria</em> pada umumnya dicek ulang oleh seorang korektor (διορθωτης) yang secara khusus dilatih untuk memeriksa kesalahan-kesalahan dalam proses penyalinan.  Catatan-catatan korektor ini dalam sebuah manuskrip biasanya dapat terdeteksi dari perbedaan dalam gaya tulisan tangan atau warna tinta.</p>
<p>Penyalin-penyalin yang dipekerjakan oleh sebuah <em>scriptorium</em> untuk melakukan sebuah proyek biasanya dibayar sesuai dengan jumlah baris yang mereka tuliskan. Ukuran panjang standard dari sebuah baris adalah sesuai dengan sebuah baris puisi, entah itu Homeric hexameter atau iambic trimeter.   Ketika sebuah karya prosa dikerjakan, sebuah baris yang disebut <em>stichos</em>, terdiri dari 16 (kadang-kadang 15) suku kata, sering kali digunakan sebagai ukuran untuk menentukan harga pasar sebuah manuskrip.  Sebuah aturan dikeluarkan pada tahun A.D. 301 oleh Kaisar Diocletian bahwa tarif upah dari para penyalin adalah 25 denarii untuk 100 baris dalam penulisan kualitas pertama, dan 20 denarii untuk jumlah baris dalam tulisan kualitas kedua (apa yang menjadi perbedaan di antara kedua kualitas ini tidak disebutkan sama sekali).  Menurut perhitungan dari Rendel Harris, biaya produksi dari sebuah Alkitab lengkap, seperti Codex Sinaiticus, adalah sekitar 30,000 denarii, sebuah jumlah yang sangat besar sekalipun sedang terjadi kenaikan inflasi.</p>
<p>Aplikasi dari perhitungan stichometrik ini juga dipakai sebagai ukuran untuk mengecek akurasi secara umum dari sebuah manuskrip, karena jelas sekali bahwa sebuah dokumen yang punya jumlah <em>stichoi</em> yang pendek adalah salinan yang kurang baik.  Di lain pihak, kalkulasi seperti ini masih jauh sekali dari pemastian kemurnian teks secara utuh, karena melalui perhitungan <em>stichoi</em> paling tidak hanya kelebihan dan omisi dari sebuah teks yang bisa terdeteksi.  Dalam manuskrip-manuskrip Injli-Injil yang memiliki informasi stichometrik, statistik yang sering muncul adalah sekitar 2,600 untuk Matius, 1600 untuk Markus, 2800 untuk Lukas, dan 2300 untuk Yohanes.  Angka yang lebih tepat, ditemukan dalam beberapa manuskrip, yaitu 2560, 1616, 2750, 2024, yang bisa mengimplikasikan, contohnya, kemunculan 16:9-20 dalam Markus, dan ketiadaan 7:53-8:11 dalam Yohanes.</p>
<p>Pada masa Byzantine, beberapa abad kemudian, salinan dari buku-buku diproduksi oleh para biarawan (<em>monks</em>).  Tekanan untuk memproduksi buku dalam monasteri-monasteri terasa lebih rendah daripada dalam <em>scriptorium </em>komersial.  Oleh karena itu, daripada menulis dengan cara didiktekan oleh seorang<em>lector</em>, seorang biarawan biasanya bekerja sendiri secara terpisah dalam ruangannya.  Ia mempersiapkan salinan kitab suci atau buku-buku lain untuk dirinya sendiri atau untuk para dermawan yang menyumbang kepada monasteri itu.  Metode penyalinan buku seperti ini mungkin tidak terbuka kepada kesalahan-kesalahan yang sama yang terjadi dalam metode diktasi, tapi ada satu set keadaan lain yang mereka alami yang membuat sehingga akurasi absolut juga sulit sekali untuk dicapai.  Dalam proses penyalinan itu, ada empat hal yang dilakukan: (1) membaca kepada diri sendiri (di masa kuno, tidak diragukan lagi ia akan membacanya dengan suara setengah keras) sebuah baris atau anak kalimat dari sebuah teks yang akan disalin, (2) menyimpan materi itu dalam ingatannya, (3) mendikte ulang materi itu kepada diri sendiri (entah dengan suara setengah keras atau tanpa suara sama sekali), dan (4) menggerakan tangan untuk menyalin apa yang diingat itu.  Sekalipun beberapa hal tadi itu dilakukan hampir secara serempak, masih tetap ada cukup kesempatan bagi pikiran seorang penyalin yang mungkin sudah lelah dan mengantuk untuk melakukan kesalahan yang fatal.</p>
<p>Lebih lanjut, sebelum adanya pena yang kita punya saat ini, seorang penyalin perlu untuk mengisi ulang tinta penanya dengan cara mencelupkannya dalam tempat penampungan tinta.  Karena proses pengisian ulang ini dilakukan berulang kali secara konstan, hal ini menyebabkan distraksi juga kepada si penyalin pada level matanya, ingatannya, keputusan yang harus diambil (judgment), dan pena-nya.</p>
<p>Selain berbagai penyebab psikologis, penyebab-penyebab eksternal dan fisiologis juga membuat sehingga akurasi absolut sangat sulit untuk dicapai. Kita perlu mengingat bahwa tindakan menyalin buku itu adalah sebuah pekerjaan besar dan melelahkan karena adanya tuntutan untuk berkonsentrasi secara konstan dalam waktu yang lama dan juga rasa keram yang muncul dalam otot-otot tubuh karena posisi berdiri atau duduk.  Mungkin ini kedengaran agak aneh bagi kita sekarang, tapi pada jaman dulu orang-orang tidak terbiasa untuk duduk di depan sebuah meja (table or desk) ketika mereka bekerja.  Dari bukti-bukti sastra dan artistik, kita menemukan bahwa hingga awal Abad Pertengahan, para penyalin buku biasanya berdiri (ketika membuat catatan-catatan pendek), atau duduk bersila di bangku yang tidak punya sandaran belakang (atau bahkan duduk di lantai) sambil memegang gulungan atau codex pada lutut/paha mareka.  Lihat gambar di bawah ini:</p>
<p><a href="http://tupamahu.files.wordpress.com/2012/01/scribe.jpg"><img class="size-medium wp-image-482 alignnone" title="scribe" src="http://tupamahu.files.wordpress.com/2012/01/scribe.jpg?w=207&#038;h=300" alt="" width="207" height="300" /></a></p>
<p>(patung seorang penyalin buku Mesir di Luvre, Paris)</p>
<p>Jelas sekali bahwa posisi duduk seperti ini jauh lebih melelahkan daripada duduk di depan sebuah meja tulis yang sebenarnya sudah cukup melelahkan jika seseorang menghabiskan 6 jam sehari selama berbulan-bulan.</p>
<p>Karena ini adalah sebuah pekerjaan besar, pada bagian akhir dari salinan, kita dapat melihat para penyalin mengungkapkan rasa lega mereka.  Dalam beberapa manuscript ada yang ditutup dengan pernyataan, &#8220;The end of the book; thanks be to God!&#8221;  :-)  Bruce Metzger lebih lanjut mengatakan, &#8220;In view of the difficulties involved in transcribing ancient books, it is the more remarkable how high was the degree of achievement of most scribes.&#8221;</p>
<p>Bersyukurlah kita sudah punya computer, scanner, photocopy machine, internet, dll., pada masa kini.  SELAMAT TAHUN BARU!!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tupamahu.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tupamahu.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tupamahu.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tupamahu.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tupamahu.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tupamahu.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tupamahu.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tupamahu.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tupamahu.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tupamahu.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tupamahu.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tupamahu.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tupamahu.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tupamahu.wordpress.com/477/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=477&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tupamahu.wordpress.com/2012/01/04/proses-penyalinan-manuskrip-alkitab-di-masa-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1b7fe261271106bff4acc1fdbe869cb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekaputrat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tupamahu.files.wordpress.com/2012/01/codex-vaticanus.jpg?w=255" medium="image">
			<media:title type="html">Codex Vaticanus</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tupamahu.files.wordpress.com/2012/01/scribe.jpg?w=207" medium="image">
			<media:title type="html">scribe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perubahan Orientasi Kehidupan</title>
		<link>http://tupamahu.wordpress.com/2011/03/06/perubahan-orientasi-kehidupan/</link>
		<comments>http://tupamahu.wordpress.com/2011/03/06/perubahan-orientasi-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Mar 2011 17:37:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekaputrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biblika]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tupamahu.wordpress.com/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[Matius 4:18-22 Danau Galilea, atau sering disebut Danau Tiberias, adalah tempat dimana Yesus dan murid-murid banyak menghabiskan waktu mereka.  Danau itu sendiri berdiameter kira-kira 53 km, sekitar setengah ukuran danau toba di Sumatera Utara.  Danau Galilea adalah danau yang paling rendah di seluruh dunia (209 meter di bawah permukaan air).  Karena danau ini cukup besar, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=468&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Matius 4:18-22</strong></p>
<p>Danau Galilea, atau serin<a href="http://tupamahu.files.wordpress.com/2011/03/fisherman.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-470" title="Fisherman" src="http://tupamahu.files.wordpress.com/2011/03/fisherman.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>g disebut Danau Tiberias, adalah tempat dimana Yesus dan murid-murid banyak menghabiskan waktu mereka.  Danau itu sendiri berdiameter kira-kira 53 km, sekitar setengah ukuran danau toba di Sumatera Utara.  Danau Galilea adalah danau yang paling rendah di seluruh dunia (209 meter di bawah permukaan air).  Karena danau ini cukup besar, orang-orang menggantungkan kehidupan mereka dengan mencari ikan disana, bahkan sampai hari ini.</p>
<p>Ketika Yesus berjumpa dengan murid-murid, mereka bukan orang-orang bujangan yang tidak punya tanggungjawab.  Kemungkinan besar semua sudah berkeluarga.  Dalam masyarakat patriakhal, pria adalah tulang punggung keluarga.  Petrus, contohnya, memang tidak dijelaskan panjang lebar siapa istrinya, tapi Injil Matius mencatat bahwa ia memiliki mertua (Matius 8:14-17).  Menurut tradisi Katolik, istri Petrus juga mati sebagai martyr.  Jadi, ini perlu ditegaskan kembali bahwa Yesus tidak memanggil pengangguran di jalan-jalan untuk menjadi murid-Nya.  Orang-orang ini punya keluarga dan karir yang jelas.  Bagi orang Yahudi, perintah yang paling penting bagi setiap laki-laki adalah “beranak cucu dan memenuhi bumi.”  Mereka harus menikah dan memiliki anak.</p>
<p>Panggilan Yesus bukan untuk mereka meninggalkan pekerjaan itu dan menjadi pengangguran untuk mengikuti Yesus.  Injil Matius mencatat bahwa mereka “meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.”  Apakah tindakan meninggalkan jala berarti bahwa mereka &#8220;berhenti&#8221; menjadi nelayan dan hanya jalan keliling-keliling saja dengan Yesus?  Tidak.  Pikirkan beberapa pertanyaan ini, ketika Yesus menyeberang dengan perahu (Matius 8:23ff), perahu siapa yang Dia pakai?  Apakah Yesus marah karena mereka menangkap ikan dalam Yohanes 21?  Ketika ada tukang pajak menanyakan apakah Yesus membayar pajak (Matius 17:24ff), mengapa Yesus menyuruh mereka pergi cari ikan?  Hari itu memang mereka meninggalkan jala untuk mengikuti Yesus.  Hanya hari itu saja ketika panggilan ini diberikan, mereka jelas tidak berhenti menjadi nelayan.   Ingat, sebagian besar pelayanan Yesus dihabiskan di Galilea.  Kita tahu bahwa bagian terakhir kehidupan-Nya saja, Ia kemudian melakukan perjalanan panjang ke Jerusalem.  Jadi masih mungkin untuk murid-murid mengikuti Yesus <em>sambil </em>mencari ikan setiap hari untuk keluarga .  Sama seperti Paulus, sekalipun dia melayani TUHAN, karirnya sebagai seorang pembuat tenda tidak pernah ditinggalkannya (KPR 18:1-4).</p>
<p>Tapi, panggilan Yesus membuat perbedaan besar dalam hidup mereka.  Kalau dulu mereka hanya berorientasi atau berfokus kepada mencari ikan, sekarang focus atau orientasi hidup mereka tidak disitu lagi.  Mereka punya karir, tapi karir tidak lagi menjadi tujuan hidup mereka.  Yesus memanggil mereka untuk menjadi “penjala manusia.”  Kalau dulu mereka menjala ikan dimana semua fokus hanya ada pada ikan, sekarang mereka adalah penjala manusia dimana semua fokus ada pada manusia.  Seluruh perhatian kita bisa ada hanya untuk karir dan pekerjaan kita, dan kita lupa bahwa kita exist atau ada dalam dunia ini untuk membantu manusia yang lain juga.  Kiranya TUHAN menolong kita semua.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tupamahu.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tupamahu.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tupamahu.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tupamahu.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tupamahu.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tupamahu.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tupamahu.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tupamahu.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tupamahu.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tupamahu.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tupamahu.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tupamahu.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tupamahu.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tupamahu.wordpress.com/468/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=468&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tupamahu.wordpress.com/2011/03/06/perubahan-orientasi-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1b7fe261271106bff4acc1fdbe869cb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekaputrat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tupamahu.files.wordpress.com/2011/03/fisherman.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Fisherman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>2010 in review</title>
		<link>http://tupamahu.wordpress.com/2011/01/01/2010-in-review/</link>
		<comments>http://tupamahu.wordpress.com/2011/01/01/2010-in-review/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Jan 2011 05:36:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekaputrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tupamahu.wordpress.com/?p=465</guid>
		<description><![CDATA[The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here&#8217;s a high level summary of its overall blog health: The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow. Crunchy numbers A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 3,600 times in 2010. That&#8217;s about 9 full 747s. &#160; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=465&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here&#8217;s a high level summary of its overall blog health:</p>
<p><img style="border:1px solid #ddd;background:#f5f5f5;padding:20px;" src="http://s0.wp.com/i/annual-recap/meter-healthy5.gif" alt="Healthy blog!" width="250" height="183" /></p>
<p>The <em>Blog-Health-o-Meter™</em> reads Wow.</p>
<h2>Crunchy numbers</h2>
<p><a href="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/02/full-gospel-fractured-minds.jpg"><img style="max-height:230px;float:right;border:1px solid #ddd;background:#fff;margin:0 0 1em 1em;padding:6px;" src="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/02/full-gospel-fractured-minds.jpg?w=288" alt="Featured image" /></a></p>
<p>A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers.  This blog was viewed about <strong>3,600</strong> times in 2010.  That&#8217;s about 9 full 747s.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>In 2010, there were <strong>27</strong> new posts, not bad for the first year! There were <strong>37</strong> pictures uploaded, taking up a total of 4mb. That&#8217;s about 3 pictures per month.</p>
<p>The busiest day of the year was February 14th with <strong>158</strong> views. The most popular post that day was <a style="color:#08c;" href="http://tupamahu.wordpress.com/2010/02/12/mengapa-pentakostalisme-begitu-anti-intelektual/">Mengapa Pentakostalisme Begitu Anti-Intelektual?</a>.</p>
<h2>Where did they come from?</h2>
<p>The top referring sites in 2010 were <strong>facebook.com</strong>, <strong>networkedblogs.com</strong>, <strong>seks2u.com</strong>, <strong>rezekimurah.com</strong>, and <strong>translate.google.com</strong>.</p>
<p>Some visitors came searching, mostly for <strong>library study</strong>, <strong>toefl</strong>, <strong>saint peter</strong>, <strong>apostle peter</strong>, and <strong>peter the apostle</strong>.</p>
<h2>Attractions in 2010</h2>
<p>These are the posts and pages that got the most views in 2010.</p>
<div style="clear:left;float:left;font-size:24pt;line-height:1em;margin:-5px 10px 20px 0;">1</div>
<p><a style="margin-right:10px;" href="http://tupamahu.wordpress.com/2010/02/12/mengapa-pentakostalisme-begitu-anti-intelektual/">Mengapa Pentakostalisme Begitu Anti-Intelektual?</a> <span style="color:#999;font-size:8pt;">February 2010</span><br />
21 comments</p>
<div style="clear:left;float:left;font-size:24pt;line-height:1em;margin:-5px 10px 20px 0;">2</div>
<p><a style="margin-right:10px;" href="http://tupamahu.wordpress.com/2010/02/06/antara-maluku-dan-new-york/">Antara Maluku dan New York</a> <span style="color:#999;font-size:8pt;">February 2010</span><br />
3 comments</p>
<div style="clear:left;float:left;font-size:24pt;line-height:1em;margin:-5px 10px 20px 0;">3</div>
<p><a style="margin-right:10px;" href="http://tupamahu.wordpress.com/2010/02/02/obrolan-mengenai-beasiswa-di-amerika-2/">Obrolan Mengenai Beasiswa di Amerika (2)</a> <span style="color:#999;font-size:8pt;">February 2010</span><br />
9 comments</p>
<div style="clear:left;float:left;font-size:24pt;line-height:1em;margin:-5px 10px 20px 0;">4</div>
<p><a style="margin-right:10px;" href="http://tupamahu.wordpress.com/2010/02/04/obrolan-mengenai-beasiswa-di-amerika-3/">Obrolan Mengenai Beasiswa di Amerika (3)</a> <span style="color:#999;font-size:8pt;">February 2010</span><br />
6 comments</p>
<div style="clear:left;float:left;font-size:24pt;line-height:1em;margin:-5px 10px 20px 0;">5</div>
<p><a style="margin-right:10px;" href="http://tupamahu.wordpress.com/2010/01/31/obrolan-mengenai-beasiswa-di-amerika-1/">Obrolan Mengenai Beasiswa di Amerika (1)</a> <span style="color:#999;font-size:8pt;">January 2010</span><br />
10 comments</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tupamahu.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tupamahu.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tupamahu.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tupamahu.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tupamahu.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tupamahu.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tupamahu.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tupamahu.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tupamahu.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tupamahu.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tupamahu.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tupamahu.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tupamahu.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tupamahu.wordpress.com/465/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=465&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tupamahu.wordpress.com/2011/01/01/2010-in-review/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1b7fe261271106bff4acc1fdbe869cb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekaputrat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/i/annual-recap/meter-healthy5.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Healthy blog!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/02/full-gospel-fractured-minds.jpg?w=288" medium="image">
			<media:title type="html">Featured image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Orang Muslim yang Murah Hati</title>
		<link>http://tupamahu.wordpress.com/2010/09/13/orang-muslim-yang-murah-hati/</link>
		<comments>http://tupamahu.wordpress.com/2010/09/13/orang-muslim-yang-murah-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Sep 2010 05:44:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekaputrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biblika]]></category>
		<category><![CDATA[Isu Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tupamahu.wordpress.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[Hari Minggu kemarin di Redlands, saya sengaja membawa renungan mengenai orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37) untuk mengenang dan meresponi peristiwa 9/11.  Cerita ini saya jadikan sebagai model teologis bagi orang Kristen untuk mengasihi sesama manusia, tidak peduli dari latarbelakang agama apapun dia.  Versi &#8220;Good Samaritan&#8221; tersebut saya ubah dalam bentuk yang lebih modern [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=460&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/09/goodsamaritan.jpg"><img class="size-medium wp-image-461 alignright" title="GoodSamaritan" src="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/09/goodsamaritan.jpg?w=300&#038;h=198" alt="" width="300" height="198" /></a>Hari Minggu kemarin di Redlands, saya sengaja membawa renungan  mengenai orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37) untuk mengenang  dan meresponi peristiwa 9/11.  Cerita ini saya jadikan sebagai model  teologis bagi orang Kristen untuk mengasihi sesama manusia, tidak peduli  dari latarbelakang agama apapun dia.  Versi &#8220;Good Samaritan&#8221; tersebut  saya ubah dalam bentuk yang lebih modern menjadi &#8220;Good Muslim&#8221;.   Pikirkan ini dan tanyakan dalam hati anda&#8230; &#8220;Siapakah sesamaku  manusia?&#8221;</p>
<blockquote><p>Adalah seorang yang berjalan  melewati jalan Redlands Blvd.  Hari sudah semakin gelap.  Tiba-tiba dia  diserang oleh beberapa orang jahat.  Tasnya dirampas.  Kalung mas  ditarik dari lehernya dengan keras.  Dia melawan, tapi tangan si  perampok menghajar mukanya hingga babak belur.  Bukan hanya itu, mereka  menendang dia dengan keras di bagian perut sehingga beberapa tulang  rusuknya remuk.  Mereka lari dengan semua barang miliknya, dan  meninggalkan dia tergeletak tak berdaya.</p>
<p>Kebetulan gembala  sidang GSJA Redlands lewat di jalan itu hendak beribadah.  Pak pendeta  rupanya tidak berani mengambil resiko berurusan dengan Polisi.  Sambil  berusaha menghubungi 911 dengan Blackberry mahalnya, ia meninggalkan  tempat tersebut.  Orang ini masih tergeletak lemah disana.  Kemudian  lewat seorang worship leader.  Ia rupanya terburu-buru karena harus  segera latihan musik untuk ibadah malam itu.  Ia memandang si korban  dengan hati pilu, dan dengan terpaksa meninggalkan tempat tersebut.</p>
<p>Beberapa  menit kemudian, datanglah seorang Muslim yang murah hati.  Ia  mengangkat korban itu, memasukan dia ke mobilnya dan melarikannya ke  rumah sakit Kaiser Permanente di Ontario.  Ia mengatakan kepada petugas  rumah sakit itu, &#8220;Ini credit card saya.  Charge semua pembiayaan  perawatannya atas nama saya.  Nanti akan saya lunasi semua setelah orang  ini pulih dan kembali ke rumahnya.&#8221;</p></blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tupamahu.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tupamahu.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tupamahu.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tupamahu.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tupamahu.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tupamahu.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tupamahu.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tupamahu.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tupamahu.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tupamahu.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tupamahu.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tupamahu.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tupamahu.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tupamahu.wordpress.com/460/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=460&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tupamahu.wordpress.com/2010/09/13/orang-muslim-yang-murah-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1b7fe261271106bff4acc1fdbe869cb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekaputrat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/09/goodsamaritan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">GoodSamaritan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lagu Rohani dalam Film Romantis</title>
		<link>http://tupamahu.wordpress.com/2010/06/19/lagu-rohani-dalam-film-romantis/</link>
		<comments>http://tupamahu.wordpress.com/2010/06/19/lagu-rohani-dalam-film-romantis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jun 2010 23:29:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekaputrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Teologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tupamahu.wordpress.com/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[Film &#8220;The Other End of the Line&#8221; (2008) mengkisahkan seorang gadis India, Priya Sethi (dimainkan oleh Shriya Saran), yang jatuh cinta dengan seorang pria Amerika, Granger Woodruff (dimainkan oleh Jesse Metcalfe).   Priya bekerja di Mumbai, India, sebagai seorang call center operator sebuah perusahan Credit Card dari Amerika.  Ia selalu memperkenalkan dirinya dengan para costumers sebagai Jennifer [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=441&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/06/other_end_of_the_line.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-442" title="other_end_of_the_line" src="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/06/other_end_of_the_line.jpg?w=203&#038;h=300" alt="" width="203" height="300" /></a>Film &#8220;<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Other_End_of_the_Line" target="_blank">The Other End of the Line</a>&#8221; (2008) mengkisahkan seorang gadis India, Priya Sethi (dimainkan oleh <a title="Shriya Saran" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Shriya_Saran" target="_blank">Shriya Saran</a>), yang jatuh cinta dengan seorang pria Amerika, Granger Woodruff (dimainkan oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jesse_Metcalfe" target="_blank">Jesse Metcalfe</a>).   Priya bekerja di Mumbai, India, sebagai seorang <em>call center operator</em><em> </em>sebuah perusahan Credit Card dari Amerika.  Ia selalu memperkenalkan dirinya dengan para <em>costumers</em> sebagai Jennifer David yang tinggal di San Fransisco.   Suatu ketika Granger hendak mengunjungi San Fransisco untuk keperluan business.  Ia mengajak Priya (Jennifer David) untuk bertemu secara langsung dan membicarakan mengenai masalah-masalah yang ia hadapi dengan credit card-nya.  Tanpa sepengetahuan orang tua, Priya memutuskan untuk berangkat ke Amerika menjumpai Granger di San Fransisco.  Kedua insan dari dua bangsa yang berbeda ini akhirnya jatuh cinta dalam perjumpaan mereka yang singkat ini.   Namun hubungan tersebut berantakan karena Granger menemukan bahwa sebelum Priya berangkat ke San Fransisco ia telah ditunangkan dengan seorang pria yang bernama Vikram oleh orang tua mereka.  Priya kembali ke India sebagai seorang yang telah mempermalukan keluarga.  Ia dipaksa oleh ayahnya untuk mencium kaki calon mertuanya dan memohon maaf dari keluarga mereka.   Ketika tiba di rumah calon mertua, Priya bukannya minta maaf, ia malah menolak pertunangan tersebut.  Apa yang terjadi dengan Granger di Amerika?  Rupanya setelah Priya kembali ke India, Granger merasakan ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.   Dalam acara penikahan teman baiknya, Granger diminta untuk memimpin <em>best man&#8217;s toast</em>.  Dalam kata-kata pengantar toast itu, Granger mengutip pernyataan temannya ketika ia bertemu dengan calon istrinya:  &#8221;<em>Nothing should ever hold a man back from his future</em>.&#8221;  Rupanya pernyataan tersebut mengingatkan Granger kepada Priya di India.  Tanpa mengakhiri <em>toast </em>itu, Granger langsung meninggalkan acara penikahan menuju ke airport dan terbang ke India.  Singkat cerita, kedua sejoli ini berjumpa kembali di Mumbai dan mendapatkan restu dari orang tua Priya untuk melangsungkan hubungan mereka.</p>
<p>Film ini sangat menarik karena  ada nilai-nilai Asia dan Amerika yang dikombinasikan di dalamnya.  Namun, di paruhan kedua film tersebut, saya dikagetkan oleh munculnya sebuah lagu rohani kontemporer oleh Michael W. Smith, <em>Breathe</em>.  Ini adalah sesuatu yang benar-benar tidak biasa.   Kalau anda lupa,  lirik  tersebut seperti ini:</p>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">This is the air I breathe</div>
<div id="_mcePaste">This is the air I breathe</div>
<div id="_mcePaste">Your holy presence living in me</div>
<div>This is my daily bread</div>
<div id="_mcePaste">This is my daily bread</div>
<div id="_mcePaste">Your very word spoken to me</div>
<div id="_mcePaste">And I&#8230; I&#8217;m desperate for you</div>
<div id="_mcePaste">And I&#8230; I&#8217;m I&#8217;m lost without you</div>
</blockquote>
<p>Sewaktu saya masih di Indonesia, banyak sekali saya temukan orang mengubah lagu-lagu non-Kristen untuk dijadikan pujian kepada TUHAN di dalam gereja.  Ada beberapa orang yang pernah bertanya kepada saya mengenai keabsahan dari praktek tersebut.  Namun hari ini baru saya temukan bahwa ada lagu rohani yang dipakai dalam film romantis.  Apa pendapat anda?  Dapatkah lagu yang ditujukan kepada TUHAN dipakai sebagai background sebuah kisah cinta antara dua manusia?</p>
<p>Ini adalah potongan dari film tersebut yang menggunakan lagu rohani <em>Breathe</em>:</p>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://tupamahu.wordpress.com/2010/06/19/lagu-rohani-dalam-film-romantis/"><img src="http://img.youtube.com/vi/3TNaVYECSkc/2.jpg" alt="" /></a></span>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tupamahu.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tupamahu.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tupamahu.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tupamahu.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tupamahu.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tupamahu.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tupamahu.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tupamahu.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tupamahu.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tupamahu.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tupamahu.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tupamahu.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tupamahu.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tupamahu.wordpress.com/441/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=441&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tupamahu.wordpress.com/2010/06/19/lagu-rohani-dalam-film-romantis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1b7fe261271106bff4acc1fdbe869cb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekaputrat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/06/other_end_of_the_line.jpg?w=203" medium="image">
			<media:title type="html">other_end_of_the_line</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Tradisi Yesus Ditransmisikan?</title>
		<link>http://tupamahu.wordpress.com/2010/06/09/bagaimana-tradisi-yesus-ditransmisikan/</link>
		<comments>http://tupamahu.wordpress.com/2010/06/09/bagaimana-tradisi-yesus-ditransmisikan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 14:42:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekaputrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biblika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tupamahu.wordpress.com/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana murid-murid Yesus mentransmisikan pemikiran, pengetahuan, serta pengalaman mereka dengan dan mengenai Yesus?  Pertanyaan ini sudah menjadi perdebatan panjang diantara pakar-pakar Perjanjian Baru.  Terutama jika kita melihat dengan lebih teliti apa yang disebut dengan synoptic problem atau masalah sinoptik, persoalan ini menjadi jauh lebih pelik.  Persamaan antara Matius, Markus dan Lukas bukan hanya pada urut-urutan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=385&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/06/carolingian-matthew.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-414" title="carolingian-matthew" src="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/06/carolingian-matthew.jpg?w=257&#038;h=300" alt="" width="257" height="300" /></a>Bagaimana murid-murid Yesus mentransmisikan pemikiran, pengetahuan, serta pengalaman mereka <em>dengan </em>dan <em>mengenai </em>Yesus?  Pertanyaan ini sudah menjadi perdebatan panjang diantara pakar-pakar Perjanjian Baru.  Terutama jika kita melihat dengan lebih teliti apa yang disebut dengan<em> synoptic problem </em> atau masalah sinoptik, persoalan ini menjadi jauh lebih pelik.  Persamaan antara Matius, Markus dan Lukas bukan hanya pada urut-urutan (<em>order</em>) peristiwa, tetapi bahkan kata per kata.  Selain itu ada pula perbedaan-perbedaan yang cukup signifikan yang bisa kita amati dalam penuturan mereka.  Hal ini jelas membuat kita bertanya-tanya, dari mana mereka dapatkan bahan-bahan mereka ketika mereka menulis cerita-cerita itu?  Kog bisa sama?  Apakah mereka &#8216;nyontek&#8217; satu sama lain? Atau apakah mereka memiliki sumber yang sama?  Kalau memang sumbernya sama atau mereka saling tahu, kog bisa ada perbedaan?   Jika anda ingin mendalami isu-isu ini, saya sarankan untuk membaca buku-buku yang berhubungan dengan masalah sinoptik.  Saat ini saya hanya ingin fokus kepada model-model transmisi tradisi yang sudah ditawarkan oleh pakar-pakar biblika.  Saya mendasarkan diskusi ini pada sebuah essay menarik yang ditulis oleh <a href="http://www.terencemournet.net/about" target="_blank">Terence C. Mournet</a>, &#8220;<em>The Jesus Tradition as Oral Tradition</em>.&#8221;  Mournet menulis essay ini dalam sebuah buku penghargaan (<em>festschrift</em>) kepada Prof. Birger Gerhardsson, seorang pakar Perjanjian Baru dari Lund University, Swedia, yang terkenal sekali dengan bukunya <a href="http://www.amazon.com/Manuscript-Tradition-Transmission-Christianity-Biblical/dp/0802843662" target="_blank"><em>Memory and Manuscript with Tradition and Transmission in Early Christianity</em></a>, yang secara khusus mendiskusikan kemungkinan paralel antara tradisi rabbinik dan kekristenan perdana.</p>
<p>Menurut Mournet, paling tidak ada tiga model utama bagaimana tradisi mengenai Yesus disebar-luaskan atau ditransmisikan: 1) <em>literary model</em>, 2) <em>rabbinical model, </em>and 3) <em>orality model. </em> Mari kita diskusikan secara singkat ketiga bentuk atau model transmisi tradisi yang sudah ditawarkan oleh para pakar ini.</p>
<p><em><strong>1. Literary Model</strong></em></p>
<p><em>Literary model</em> adalah model yang paling jelas terlihat dalam Injil-Injil.  Kekristenan mula-mula adalah gerakan yang sangat peduli dengan penuangan tradisi mereka dalam bentuk tertulis.  Oleh karena itu, teks memainkan peran yang sangat penting.  Tradisi mengenai Yesus disebar-luaskan dan diturunkan dari satu generasi ke generasi yang lain melalui tulisan.  Bentuk-bentuk analisa, terutama <em>higher criticism</em>, terhadap Alkitab biasanya bekerja di atas dasar asumsi bahwa pengikut-pengikut Yesus bukan hanya mendengarkan pengajaran atau menyaksikan Yesus, tetapi juga menuangkan cerita mengenai hidup dan pengajaran Yesus dalam bentuk tertulis.  Mournet menjelaskan:</p>
<blockquote><p>For those  working within the literary model of tradition transmission, the process of transmission is conceptualized, theorized, and worked out from within an exclusively literary framework.  Those most prone to adopting this particular perspective are typically scholars working with the so-called historical-critical tools of biblical scholarship.  Textual critics work within multiple editions of texts, or fragments thereof; redaction critics examine texts to discern how authors utilized, adapted, or edited texts; source critics compare the Synoptic Gospels to detect evidence of literary activity &#8211; that is, the copying of one source text by another author; form critics examine the various subgenres of a text and attempt to recover early, original forms of texts an traditions.  (p. 44)</p></blockquote>
<p>Jadi, hampir semua bentuk analisa (<em>criticism</em>) terhadap Injil-Injil dikerjakan dalam kerangka berpikir ini.  Bahkan ada pakar-pakar yang menyatakan bahwa Perjanjian Baru, terutama Injil-Injil, bukan hanya merupakan hasil proses transmisi tertulis mengenai Yesus, tetapi juga dipengaruhi oleh <em>literary works </em>lain dalam dunia Yunani pada waktu itu.   Sebagai contoh, seorang pakar Perjanjian Baru dari Claremont, Prof. Dennis MacDonald, dalam bukunya <a href="http://www.amazon.com/Homeric-Epics-Gospel-Mark/dp/0300080123/ref=sr_1_1?ie=UTF8&amp;s=books&amp;qid=1276085795&amp;sr=1-1" target="_blank"><em>The Homeric Epics and the Gospel of Mark</em></a>, menyatakan bahwa cerita-cerita mengenai Yesus dalam Injil Markus dibuat dengan sedemikian rupa sehingga ketika orang-orang Yunani membacanya mereka bisa secara otomatis membandingkan cerita Yesus dengan tokoh-tokoh dalam legenda Yunani seperti Oddisey dan Illiad.</p>
<p><em><strong>2. Rabbinical Model</strong></em></p>
<p>Model rabbinik pertama kali diperkenalkan secara komprehensif oleh Birger Gerhardsson.  Buku <em>Memory and Manuscript</em> ditulis oleh Gerhardsson sebagai respon kepada trend dalam studi biblika di Eropa, terutama <em>formgeschichte</em> (kritik bentuk) yang diformulasikan oleh Rudolf Bultmann, dll.  Kritik bentuk ini telah membuat sehingga cerita-cerita dalam Injil-Injil hampir tidak bisa lagi dipakai untuk melakukan rekonstruksi historis terhadap kehidupan Yesus.  &#8220;The form-critical method&#8217;s approach to the Gospel left New Testament researchers with very little reliable historical material from which one could evaluate the life and ministry of Jesus.&#8221; (p. 46)</p>
<p>Jadi apa yang ditawarkan oleh Gerhardsson?   Gerhardsson melakukan analisa yang sangat ekstensif terhadap transmisi tradisi dalam gerakan Yudaisme rabbinik (farisi).  Cara orang-orang farisi dalam tradisi rabbinik ini mentransmisikan pengajaran mereka merupakan model yang menurut Gerhardsson bisa dipakai sebagai sebuah lensa untuk melihat transmisi  tradisi dalam kekristenan perdana.  Kita harus mengingat bahwa Yesus dianggap sebagai Rabbi atau guru dalam Perjanjian Baru (lihat Matius 22:35-36; Lukas 7:40; 12:13; 19:39; 20:27-28).  Sama seperti rabbi-rabbi yang lain pada masa itu, Yesus juga dikelilingi oleh murid-murid-Nya yang belajar mengenai Kerajaan Allah.  Oleh karena itu, bagi Gerhardsson, prosedur teknis pentransmisian pengajaran dalam tradisi rabbinik kemungkinan juga merupakan cara yang dipakai oleh kekristenan perdana untuk mentransmisikan pengajaran Yesus.   Apa prosedur teknis itu?  Dalam penelitiannya, Gerhardsson menemukan bahwa tradisi rabbinik ditransmisikan melalui prosedur seperti penghafalan (<em>memorization</em>) dan juga pengambilan catatan dengan menggunakan <em>notebooks</em> sebagai <em>aide-mémoire </em>(alat bantu mengingat) bagi para murid.   Pernahkah anda berpikir bahwa ketika murid-murid duduk di kaki Yesus mereka memegang buku catatan dan menulis segala sesuatu yang Ia kerjakan?  Hal ini, menurut Gerhardsson, adalah sesuatu yang sangat biasa dalam tradisi rabbinik.  Jadi, kemungkinan murid-murid Yesus juga melakukannya.  Dengan demikian <em>ipsissima verba</em> Yesus bisa terjaga dengan baik dan ditransmisikan tanpa ada perubahan yang sangat signifikan.</p>
<p><em><strong>3. Orality Model</strong></em></p>
<p>Orality model melihat proses transmisi ini dilakukan dalam bentuk lisan.  Cerita-cerita serta pengajaran Yesus bukan hanya disampaikan dari mulut ke mulut, tapi juga melalui <em>performative arts. </em>Mournet menjelaskan:</p>
<blockquote><p>It [orality model] is predicated upon an assumption which has been embraced by countless New Testament scholars over the decades: that the Jesus tradition was initially oral and Jesus was an individual who was at home within the oral performance arena.  Through his use of oral forms of communication &#8211; <em>mashal, </em>proverb, ad so forth &#8211; Jesus communicated to his diverse audiences through means which were both known to and appreciated by all.  All of the approaches which fall under the rubric of &#8220;orality&#8221; are, in their own unique ways, attempts to reclaim for the twenty-first-century reader the  power and dynamism of the performative arts which were integral to traditional society of Jesus time.</p></blockquote>
<p>Mournet lebih lanjut mengkritik <em>literary model </em>dengan mengatakan bahwa dampak dari sarana tertulis untuk komunikasi pada waktu itu tidak terlalu besar karena jumlah orang yang bisa berinteraksi dengan teks masih cukup sedikit.  Ia mengutip riset oleh William Harris yang menemukan bahwa hanya kurang dari 10% dari penduduk Athena yang bisa baca dan tulis pada masa Yesus.  Sedangkan dalam skala populasi yang lebih luas, angka <em>literacy </em>mungkin sekitar 5% saja.  Pakar-pakar biblika rupanya menemukan data yang mengkonfirmasi thesis dari Harris tersebut.  Kemampuan baca dan tulis kemungkinan hanya ada di kalangan elit politis dan kultural.  Oleh karena itu, tulisan-tulisan hanya bisa diakses dan dipergunakan dalam skala yang tidak terlalu besar.</p>
<p>Framework yang dipakai oleh pakar-pakar Perjanjian Baru seperti Mournet, N.T. Wright, James Dunn, dll. untuk menjelaskan prosedur transmisi oral adalah &#8220;<em>Informal Controlled Oral Tradition</em>&#8221; (tradisi oral yang informal tapi terkontrol), sebuah teori yang dikemukakan oleh Kenneth Bailey.  Teori ini merupakan jalan tengah antara kritik bentuk dari Bultmann yang mengarah kepada transmisi yang sifatnya &#8220;<em>informal uncontrolled</em>&#8221; (tidak formal dan tidak terkontrol) dan teori rabbinik dari Gehardsson yang mengarah kepada transmisi yang &#8220;<em>formal controlled</em>&#8221; (formal dan terkontrol).    Teorinya Bailey disebut sebagai <em>informal </em>karena tidak ada guru dan murid yang sudah diatur.  Tapi sekalipun demikian proses transmisinya dilakukan secara terkontrol karena komunitas menjadi pengawas terhadap penyelewengan.  Sebagai seorang yang hidup selama sekitar 30 tahun di Timur Tengah, Bailey menjelaskan transmisi tradisi oral sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>So there was continuity and flexibility.  Not continuity and change.  The distinction is very important.  Continuity and change could mean that the story teller could change say 15% of the story &#8211; any 15%.  Thus after seven transmissions of the story theoretically all of the story could be changed.  But continuity and flexibility mean that main lines of the story cannot be changed at all.  The story can endure one different transmission through a chain of a hundred and one different people and the inner core of the story remains intact.  Within the structure, the storyteller has flexibility within limits to &#8220;tell his own way.&#8221;  But the basic story line remains the same.  By telling and retelling, the story does not evolve from A to B to C.  Rather the original structure of the story remains the same but it can be colored green or red or blue.</p></blockquote>
<p>Jika demikian teorinya, maka sekalipun sebuah cerita mengenai Yesus disampaikan dalam bentuk-bentuk yang berbeda (<em>flexibility</em>), inti dari cerita tersebut masih sama.</p>
<p>Kita jelas bisa daftarkan kelemahan-kelemahan dari masing-masing teori diatas.  Kelemahan dari <em>literary model </em>adalah, seperti yang sudah dikemukakan di atas, tidak semua orang pada waktu itu bisa membaca dan menulis.  Oleh karena itu, jika model ini saja yang dipakai, maka penyebaran tradisi mengenai Yesus yang begitu luas sulit untuk bisa dijelaskan.  Kelemahan dari <em>orality model</em> adalah kita hampir tidak bisa sama sekali menelusurinya karena tidak ada bukti empiris yang jelas.  Teori oral terlalu <em>loose </em>dan <em>slipery</em><em>. </em>Bagaimana dengan teori yang dikemukakan oleh Gerhardsson?  Salah satu kritik yang sangat tajam mengenai teori ini adalah bahwa Gerhardsson cenderung anakronistik dalam pendekatannya.  Tradisi rabbinik baru berkembang sesudah abad II, sedangkan penulisan Injil-Injil dilakukan sebelum abad II.  Apakah sesuatu yang dilakukan sesudah abad II bisa dijadikan model untuk transmisi pada abad I?  Ini adalah pertanyaan yang para pakar lain ajukan kepada Gerhardsson.</p>
<p>Apa pendapat anda??</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tupamahu.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tupamahu.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tupamahu.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tupamahu.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tupamahu.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tupamahu.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tupamahu.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tupamahu.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tupamahu.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tupamahu.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tupamahu.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tupamahu.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tupamahu.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tupamahu.wordpress.com/385/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=385&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tupamahu.wordpress.com/2010/06/09/bagaimana-tradisi-yesus-ditransmisikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1b7fe261271106bff4acc1fdbe869cb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekaputrat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/06/carolingian-matthew.jpg?w=257" medium="image">
			<media:title type="html">carolingian-matthew</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seks Sebagai Wacana Publik?</title>
		<link>http://tupamahu.wordpress.com/2010/06/08/wacana-publik/</link>
		<comments>http://tupamahu.wordpress.com/2010/06/08/wacana-publik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jun 2010 15:33:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekaputrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isu Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tupamahu.wordpress.com/?p=390</guid>
		<description><![CDATA[Minggu ini Indonesia digemparkan oleh beberapa video porno yang pemainnya &#8220;mirip&#8221; dengan artis-artis papan atas.  Ariel, Luna Maya, Cut Tari, dll., adalah nama-nama yang diisukan terlibat dalam pembuatan video-video tersebut.  Facebook, Twitter, dan situs-situs persahabatan lain rupanya telah menjadi ujung tombak penyebaran berita dan gosip tersebut.  Apa sih yang sedang terjadi?  Dalam posting singkat ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=390&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/06/shy_boy.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-394" title="shy_boy" src="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/06/shy_boy.jpg?w=200&#038;h=300" alt="" width="200" height="300" /></a>Minggu ini Indonesia digemparkan oleh beberapa video porno yang pemainnya &#8220;mirip&#8221; dengan artis-artis papan atas.  Ariel, Luna Maya, Cut Tari, dll., adalah nama-nama yang diisukan terlibat dalam pembuatan video-video tersebut.  Facebook, Twitter, dan situs-situs persahabatan lain rupanya telah menjadi ujung tombak penyebaran berita dan gosip tersebut.  Apa sih yang sedang terjadi?  Dalam posting singkat ini saya ingin memberikan pendapat pribadi mengenai trend sosial ini.</p>
<p>Kelihatannya perkembangan teknologi, terutama internet, telah membawa sebuah perubahan yang cukup besar dalam sistem nilai masyarakat Indonesia, terutama dalam hal seksualitas.  Dulu, terutama sebelum orang memiliki akses yang mudah kepada internet, seksualitas selalu dianggap sebagai urusan di belakang pintu kamar.  Maksudnya adalah semua orang tahu bahwa suami-istri pasti berhubungan seks, tetapi seks tidak pernah menjadi bahan pembicaraan di publik.  Dengan kata lain, seksualitas bukan topik yang sepantasnya dibicarakan di depan umum.  <em>Sex </em>biasanya dianggap sebagai <em>private knowledge</em>.  Jarang sekali ada orang tua yang membicarakan seks secara terbuka dengan anak-anak mereka.  Hal ini terjadi mungkin karena ada anggapan bahwa anak-anak ini bisa mempelajarinya sendiri ketika mereka bertumbuh, atau mereka memang <em>malu</em> untuk membicarakannya.  Orang tua mana yang berani berbicara atau menjelaskan mengenai <em>masturbasi </em>atau <em>oral sex</em> atau <em>anal sex </em>dengan anak-anak mereka?  Hal ini jelas terdengar sangat menjijikkan.  Oleh karena itu, seks kebanyakan hanya dibicarakan dalam konteks akademis di sekolah (terutama dalam pelajaran biologi) atau seminar-seminar yang sifatnya sangat resmi.  Pembicaraan <em>casual </em>mengenai seks biasanya dianggap <em>jorok</em> atau <em>ngeres</em>.</p>
<p>Apa yang terjadi sekarang?  Kelihatannya wacana seks bukan lagi menjadi sesuatu yang taboo.   Nuansa <em>jorok</em> sudah mulai berkurang kekuatannya setelah ada situs-situs pertemanan, terutama Twitter.  Coba anda amati bagaimana anak-anak muda dengan sangat terbuka dan terang-terangan memberikan pendapat mereka mengenai video seks yang beredar belakangan ini.  Jangan kita lupa bahwa akses kepada pornografi sudah jauh lebih mudah daripada sebelum ada internet.  Jarak anak-anak muda dengan seks hanyalah sejauh sebuah <em>click</em>-an mouse.   Kita tidak bisa lagi menutup mata dari kenyataan ini dan pura-pura tidak tahu.</p>
<p>Ada satu hal yang saya harap kita akan renungkan disini.  Manusia adalah makhluk seksual (<em>sexual being</em>).  Hal ini berarti bahwa sekalipun seks ditutup-tutupi, manusia secara natural pasti akan mengejarnya.  Manusia memang diciptakan demikian.  Hasrat sekualitas bukanlah sesuatu yang berdosa dalam dirinya sendiri.  Tidak ada yang salah dengan hasrat tersebut.  Kegairahan seks adalah bagian yang sangat alami dan wajar secara biologis.   Jelas bahwa wanita dan pria memiliki kecenderungan-kecenderungan yang berbeda mengenai hal ini.  Tapi, fakta bahwa kita adalah <em>sexual beings</em> tidak bisa kita pungkiri.</p>
<p>Oleh karena itu, apa yang harus kita lakukan?  Saya pikir perlunya pendidikan seks tidak lagi bisa diremehkan.  Anak-anak Indonesia harus diberikan penjelasan secara terbuka apa itu seksualitas dan apa yang akan menjadi konsekuensi jika mereka berani untuk melibatkan diri dalam hubungan seksual.  Kita perlu menjelaskan hal ini tanpa mengurangi standard nilai moralitas seksualitas yang kita miliki di Indonesia.  Pendidikan ini perlu dilakukan secara formal di sekolah-sekolah, maupun secara informal di rumah-rumah.  Orang tua tidak boleh lagi merasa malu untuk membicarakan masalah seksualitas dengan anak-anak mereka.  Pendeta-pendeta tidak boleh lagi menganggap pembicaraan mengenai seks di mimbar-mimbar gereja sebagai sesuatu yang najis.</p>
<p>Silahkan berikan pandangan anda mengenai hal ini.  Mari kita diskusikan dengan dewasa dan terbuka.  Tuhan memberkati.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tupamahu.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tupamahu.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tupamahu.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tupamahu.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tupamahu.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tupamahu.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tupamahu.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tupamahu.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tupamahu.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tupamahu.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tupamahu.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tupamahu.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tupamahu.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tupamahu.wordpress.com/390/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=390&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tupamahu.wordpress.com/2010/06/08/wacana-publik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1b7fe261271106bff4acc1fdbe869cb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekaputrat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/06/shy_boy.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">shy_boy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I&#8217;m Back Again. :-)</title>
		<link>http://tupamahu.wordpress.com/2010/06/04/im-back-again/</link>
		<comments>http://tupamahu.wordpress.com/2010/06/04/im-back-again/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 13:55:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekaputrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tupamahu.wordpress.com/?p=382</guid>
		<description><![CDATA[Saya mau mohon maaf kepada pembaca blog ini karena dalam beberapa waktu saya tidak menulis apa-apa disini.  Bulan Mei lalu adalah waktu yang terpadat dalam pendidikan saya di Claremont.  Selama dua minggu terakhir saya hampir tidak tidur setiap hari untuk mengejar tugas-tugas akhir.  Hanya dalam sekitar 3 minggu, saya harus menulis sekitar 100an halaman paper [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=382&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mau mohon maaf kepada pembaca blog ini karena dalam beberapa waktu saya tidak menulis apa-apa disini.  Bulan Mei lalu adalah waktu yang terpadat dalam pendidikan saya di Claremont.  Selama dua minggu terakhir saya hampir tidak tidur setiap hari untuk mengejar tugas-tugas akhir.  Hanya dalam sekitar 3 minggu, saya harus menulis sekitar 100an halaman paper (total).   Puji Tuhan&#8230; <em>I still survive</em>.  Sampai sejauh ini TUHAN masih menolong.  Bulan Juni hingga Agustus adalah masa libur (<em>summer break</em>) yang sangat panjang.  Saya harap saya bisa &#8220;make-up&#8221; waktu-waktu yang lalu dimana saya tidak pernah menulis apa-apa disini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tupamahu.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tupamahu.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tupamahu.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tupamahu.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tupamahu.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tupamahu.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tupamahu.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tupamahu.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tupamahu.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tupamahu.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tupamahu.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tupamahu.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tupamahu.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tupamahu.wordpress.com/382/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=382&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tupamahu.wordpress.com/2010/06/04/im-back-again/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1b7fe261271106bff4acc1fdbe869cb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekaputrat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Does God Still Create Stuff Today?</title>
		<link>http://tupamahu.wordpress.com/2010/04/14/does-god-still-create-stuff-today/</link>
		<comments>http://tupamahu.wordpress.com/2010/04/14/does-god-still-create-stuff-today/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 17:38:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekaputrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Teologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tupamahu.wordpress.com/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[Video ini sangat menarik dan mungkin bisa dipakai sebagai alat untuk mengajar di Gereja.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=376&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Video ini sangat menarik dan mungkin bisa dipakai sebagai alat untuk mengajar di Gereja.</p>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://tupamahu.wordpress.com/2010/04/14/does-god-still-create-stuff-today/"><img src="http://img.youtube.com/vi/egsG9WNoUEE/2.jpg" alt="" /></a></span>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tupamahu.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tupamahu.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tupamahu.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tupamahu.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tupamahu.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tupamahu.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tupamahu.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tupamahu.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tupamahu.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tupamahu.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tupamahu.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tupamahu.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tupamahu.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tupamahu.wordpress.com/376/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=376&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tupamahu.wordpress.com/2010/04/14/does-god-still-create-stuff-today/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1b7fe261271106bff4acc1fdbe869cb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekaputrat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Josephus &#8211; Kehendak Bebas Manusia dan Kedaulatan Allah</title>
		<link>http://tupamahu.wordpress.com/2010/03/20/josephus-kehendak-bebas-manusia-dan-kedaulatan-allah/</link>
		<comments>http://tupamahu.wordpress.com/2010/03/20/josephus-kehendak-bebas-manusia-dan-kedaulatan-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2010 01:20:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekaputrat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Dogma]]></category>
		<category><![CDATA[Teologi]]></category>
		<category><![CDATA[Josephus]]></category>
		<category><![CDATA[Kedaulatan Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Kehendak Bebas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tupamahu.wordpress.com/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda berpikir bahwa debat mengenai kehendak bebas dan kedaulatan Allah baru muncul setelah masa Reformasi antara Calvinisme and Arminianisme, mungkin anda keliru besar.  Josephus, sejarahwan Yahudi yang hidup pada abad pertama, mencatat bahwa pada masa itu perdebatan mengenai kehendak bebas manusia dan kedaulatan Allah rupanya sudah menjadi pokok pembicaraan pemikir-pemikir Yahudi.  Berikut ini catatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=363&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/03/josephus.gif"><img class="alignright size-full wp-image-366" title="josephus" src="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/03/josephus.gif?w=600" alt=""   /></a>Jika anda berpikir bahwa debat mengenai kehendak bebas dan kedaulatan Allah baru muncul setelah masa Reformasi antara Calvinisme and Arminianisme, mungkin anda keliru besar.  Josephus, sejarahwan Yahudi yang hidup pada abad pertama, mencatat bahwa pada masa itu perdebatan mengenai kehendak bebas manusia dan kedaulatan Allah rupanya sudah menjadi pokok pembicaraan pemikir-pemikir Yahudi.  Berikut ini catatan pendek Josephus mengenai diskusi tersebut:</p>
<blockquote><p>At this time there were three sects among the Jews, who had different opinions concerning human actions; the one was called the sect of the Pharisees, another the sect of the Sadducees, and the other the sect of the Essens. Now for the Pharisees, they say that some actions, but not all, are the work of fate, and some of them are in our own power, and that they are liable to fate, but are not caused by fate. But the sect of the Essens affirm, that fate governs all things, and that nothing befalls men but what is according to its determination. And for the Sadducees, they take away fate, and say there is no such thing, and that the events of human affairs are not at its disposal; but they suppose that all our actions are in our own power, so that we are ourselves the causes of what is good, and receive what is evil from our own folly. However, I have given a more exact account of these opinions in the second book of the Jewish War. (Josephus, <em>The Antiquities of the Jews</em>, 13.5.9)</p></blockquote>
<p>Dari catatan di atas, paling tidak kita dapat melihat bahwa ada tiga posisi yang berbeda mengenai pokok kehendak bebas manusia dan kedaulatan Allah.</p>
<p><strong>1. Kaum Farisi</strong>.  Mereka percaya bahwa ada beberapa tindakan manusia yang memang ditentukan oleh Allah.  Kita tidak diberikan penjelasan tuntaas mengenai tindakan itu apa, tetapi yang jelas bahwa ada hal-hal dalam hidup manusia yang ditentutukan oleh Allah.  Tapi ada tindakan-tindakan manusia juga yang merupakan hasil dari pilihan bebas manusia.  Tindakan-tindakan itu tidak sepenuhnya ditentukan oleh &#8220;takdir&#8221;.  Jadi sejarah manusia berlangsung dalam interaksi serta dinamika hubungan antara takdir dan kebebasan manusia.</p>
<p><strong>2. Kaum Eseni</strong>.  Orang-orang Eseni percaya bahwa segala sesuatu sudah ditentukan oleh Allah.  Apa saja yang terjadi dalam hidup manusia sudah &#8220;ditakdirkan&#8221; demikian.  Oleh karena itu, manusia tidak memiliki kebebasan sama sekali untuk menentukan nasibnya.</p>
<p><strong>3. Kaum Saduki</strong>.  Mereka percaya bahwa tidak ada sama sekali yang namanya &#8220;takdir&#8221;.  Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia adalah hasil dari pilihan bebas yang diambil manusia itu.  Allah tidak menentukan apa-apa.  Kalau terjadi hal yang buruk dalam hidup manusia, menurut kaum Saduki, itu adalah kebodohan mereka sendiri.  Allah tidak bisa dipersalahkan atau dimintai tanggungjawab untuk hal tersebut.</p>
<p>Anyway, kira-kira anda ada di posisi yang mana?  Apakah anda cenderung menjadi orang Farisi, atau orang Eseni, atau orang Saduki?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tupamahu.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tupamahu.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tupamahu.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tupamahu.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tupamahu.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tupamahu.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tupamahu.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tupamahu.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tupamahu.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tupamahu.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tupamahu.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tupamahu.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tupamahu.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tupamahu.wordpress.com/363/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tupamahu.wordpress.com&amp;blog=1413623&amp;post=363&amp;subd=tupamahu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tupamahu.wordpress.com/2010/03/20/josephus-kehendak-bebas-manusia-dan-kedaulatan-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1b7fe261271106bff4acc1fdbe869cb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekaputrat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tupamahu.files.wordpress.com/2010/03/josephus.gif" medium="image">
			<media:title type="html">josephus</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
